Kualitas udara di Tangerang Raya dipengaruhi oleh aktivitas perkotaan dan kondisi
meteorologi yang mengatur transport, dispersi, serta akumulasi polutan di atmosfer.
Perbedaan kondisi meteorologi antara musim basah dan musim kering dapat diikuti
respons kolom polutan yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan
menganalisis variabilitas spasial-temporal kolom NO2, SO2, CO, O3, dan Aerosol
Index (AI) serta hubungannya dengan suhu udara, kecepatan angin, dan curah hujan
di Tangerang Raya selama 2019–2025.
Kolom polutan diperoleh dari Sentinel-5P TROPOMI, suhu dan angin dari ERA5
Land, serta curah hujan dari CHIRPS. Data meteorologi divalidasi terhadap observasi
BMKG, sedangkan Sentinel-5P dibandingkan secara regional dengan observasi
polutan permukaan DLH Provinsi DKI Jakarta. Variabilitas musiman dianalisis
melalui komposit DJF dan JJA, kemudian hubungan polutan–parameter meteorologi
dievaluasi menggunakan korelasi Pearson dan Multiple Linear Regression (MLR).
Analisis anomali digunakan untuk menilai apakah hubungan tersebut tetap terlihat
setelah siklus bulanan rata-rata dihilangkan.
Hasil menunjukkan respons musiman yang berbeda antarpolutan. Rata-rata kolom
NO2, SO2, dan CO pada JJA masing-masing 89%, 54%, dan 15% lebih tinggi
dibandingkan dengan DJF, sedangkan O3 berubah relatif kecil dan AI cenderung
kurang negatif. Kondisi JJA dengan curah hujan dan kecepatan angin yang lebih
rendah berkaitan dengan berkurangnya deposisi basah dan dispersi polutan.
Hubungan simultan dengan parameter meteorologi paling kuat ditemukan pada CO
(R2 = 0,742), NO2 (R2 = 0,492), dan O3 (R2 = 0,439), sedangkan SO2 dan AI relatif
lemah. Pada DJF, kecepatan angin menunjukkan hubungan paling kuat dengan CO
dan O3, sementara pada JJA hubungan CO lebih kuat terhadap suhu dan curah hujan.
Analisis anomali menunjukkan pola serupa, dengan keterkaitan parameter
meteorologi paling konsisten pada CO, NO2, dan O3 serta berbeda antar-musim.
Perpustakaan Digital ITB