COVER - M. Awfan Ibnu Fasah
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 - M. Awfan Ibnu Fasah
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - M. Awfan Ibnu Fasah
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - M. Awfan Ibnu Fasah
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - M. Awfan Ibnu Fasah
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - M. Awfan Ibnu Fasah
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - M. Awfan Ibnu Fasah
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN - M. Awfan Ibnu Fasah
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Sayap pesawat regional dengan struktur trailing edge yang tersambung
menggunakan rivet rentan mengalami konsentrasi tegangan yang dapat
mempercepat kegagalan lelah akibat vortex-induced vibration (VIV). Penelitian ini
menganalisis pengaruh variasi sudut serang (0°, 4°, 8°, 15°, dan 17°) terhadap
respons struktur, akumulasi kerusakan lelah, dan perambatan retak pada struktur
sayap menggunakan pendekatan kopling searah antara simulasi dinamika fluida.
Hasil CFD menunjukkan bahwa aliran tetap melekat pada sudut serang rendah,
mulai mengalami separasi pada 15°, dan menghasilkan pelepasan pusaran periodik
pada 17° yang menyebabkan fluktuasi koefisien gaya angkat. Simulasi FEA
menunjukkan bahwa deformasi dan tegangan maksimum terjadi pada sudut serang
15°, dengan tegangan Von Mises tertinggi sebesar 248,6 MPa pada pangkal spar
depan. Analisis kelelahan menunjukkan bahwa seluruh nilai kerusakan masih jauh
di bawah batas kegagalan. Analisis perambatan retak menggunakan Hukum Paris
menunjukkan bahwa retak akibat pembebanan bending mencapai kondisi kritis
lebih cepat, yaitu sekitar 5,05 kali umur operasi, dibandingkan retak akibat VIV
yang mencapai kondisi kritis setelah sekitar 28,3 kali umur operasi. Secara
keseluruhan, struktur sayap yang dianalisis masih memenuhi kriteria aman terhadap
kerusakan lelah dan perambatan retak untuk kondisi operasi dan asumsi yang
digunakan.
Perpustakaan Digital ITB