Pertumbuhan pusat data di kawasan perkotaan mendorong peningkatan kebutuhan
pasokan listrik berkapasitas besar, keandalan tinggi, dan efisiensi biaya. Penelitian
ini membandingkan tiga alternatif tingkat tegangan catu daya — 20 kV, 66 kV, dan
150 kV — untuk pusat data 40 MW di kawasan Kuningan, Jakarta, disuplai dari
dua Gardu Induk (Dukuh Atas dan Kebon Baru). Evaluasi dilakukan melalui
simulasi power flow, losses, dan analisis N-1 menggunakan DIgSILENT
PowerFactory, serta rekonstruksi Availability berbasis struktur seri-paralel topologi
dan parameter failure rate dari literatur terpublikasi, mengingat modul Reliability
Assessment bawaan perangkat lunak teridentifikasi menggunakan nilai default
yang belum terkalibrasi.
Hasil analisis teknis menunjukkan sistem 150 kV memiliki rugi-rugi jaringan
terendah (0,291%), diikuti sistem 66 kV (0,577%) dan sistem 20 kV (0,739%).
Konfigurasi N-1 terkoreksi pada ketiga sistem disusun sedemikian rupa sehingga
estimasi Availability mencapai minimal 99,9%. Hasil rekonstruksi Availability pada
Kondisi Normal menunjukkan sistem 20 kV tertinggi (99,9696%), diikuti sistem
150 kV (99,9674%) dan sistem 66 kV (99,9440%); sistem 66 kV tercatat terendah
akibat struktur dua tahap transformator yang tersusun seri.
Analisis Life Cycle Cost pada Kondisi Normal menunjukkan sistem 20 kV mencatat
Net Present Cost (NPC) terendah (Rp610,46 miliar), unggul tipis dari sistem 150
kV (Rp669,34 miliar). Namun, dengan mempertimbangkan potensi risiko
Overheating pada instalasi kabel tanam tegangan menengah (SKTM) 20 kV
berdasarkan bukti empiris investigasi PLN Puslitbang — risiko yang secara
struktural tidak berlaku pada sistem 66 kV/150 kV karena menggunakan kabel
tegangan tinggi (SKTT) dengan jumlah kabel jauh lebih sedikit — NPC sistem 20
kV meningkat signifikan menjadi Rp1.912,57 miliar, menjadikan sistem 150 kV
iii
sebagai alternatif dengan NPC terendah (Rp669,34 miliar). Kedua peringkat
terbukti robust terhadap analisis sensitivitas Value of Lost Load.
Berdasarkan keseluruhan analisis teknis, keandalan, dan ekonomi pada dua kondisi
yang dianalisis, tingkat tegangan 150 kV merupakan alternatif yang
direkomendasikan untuk catu daya pusat data perkotaan, khususnya apabila risiko
Overheating pada instalasi kabel tanam turut dipertimbangkan sebagai bagian
mitigasi risiko operasional jangka panjang. Rekomendasi ini disertai catatan bahwa
sistem 150 kV membutuhkan investasi langsung dari sisi pelanggan yang lebih
besar (?Rp42 miliar, 24% dari total CAPEX) dibandingkan sistem 20 kV yang
praktis tidak membebankan investasi langsung ke pelanggan, sehingga kemampuan
finansial pelanggan turut menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan
keputusan akhir.
Perpustakaan Digital ITB