Danau Maninjau merupakan danau vulkanik di Sumatra Barat yang berperan
penting sebagai sumber perikanan, pembangkit listrik tenaga air, dan pariwisata.
Dalam beberapa dekade terakhir, kualitas air Danau Maninjau mengalami penuruan
seperti: peningkatan nutrien yang ditandai oleh eutrofikasi, peningkatan bahan
organik, penipisan lapisan oksik, dan meningkatnya frekuensi fenomena tubo
belerang, yaitu naiknya sulfida dari lapisan dasar ke permukaan yang sering
memicu kematian massal ikan di Keramba Jaring Apung (KJA). Fenomena tersebut
diduga merupakan hasil interaksi antara proses biogeokimia, kondisi meteorologis,
dan dinamika hidrodinamika.
Keberadaan sulfida di Danau Maninjau telah menjadi perhatian dalam sejumlah
penelitian sebelumnya. Beberapa studi mengaitkan pembentukan sulfida dengan
aktivitas biotik, terutama proses reduksi sulfat oleh bakteri pada kondisi anoksik,
sedangkan studi lainnya mengindikasikan adanya kontribusi faktor abiotik yang
berasosiasi dengan aktivitas vulkanik. Meskipun demikian, hingga saat ini belum
terdapat kesimpulan yang komprehensif mengenai faktor utama yang berpotensi
menjadi sumber sulfida. Selain itu, mekanisme transport sulfida dari lapisan
hipolimnion menuju lapisan permukaan yang menjadi pemicu langsung terjadinya
tubo belerang juga masih belum dikaji secara khusus. Berdasarkan kondisi tersebut,
penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sumber sulfida di Danau Maninjau
serta mengkaji mekanisme pergerakannya di dalam kolom air secara terpadu,
sehingga dapat memberikan dasar ilmiah bagi pemahaman proses terjadinya tubo
belerang dan pengembangan strategi mitigasi dampaknya.
Penelitian dilakukan melalui survei lapangan, analisis hidrogeokimia, dan
pemodelan numerik. Survei kualitas air dilaksanakan pada November 2022 dan
Agustus 2023 di tujuh stasiun dengan pengukuran suhu, pH, TDS (Total Dissolved
Solid), ORP (Oxidation Reduction Potential) dan DO (Dissolved Oxygen) serta
analisis sulfida, sulfat, klorida, bikarbonat, besi, mangan, dan bahan organik pada
air dan sedimen. Sumber sulfida diidentifikasi melalui karakteristik ion utama serta
hubungan karbon–sulfur dalam sedimen. Dinamika kolom air dianalisis
menggunakan data suhu kolom air dan meteorologi tahun 2015–2017, sedangkan
proses fisik dan dinamika sulfida masing-masing disimulasikan menggunakan
model hidrodinamika tiga dimensi HAMSOM dan model reaksi–difusi satu
dimensi.
Hasil analisis hidrogeokimia menunjukkan bahwa sistem perairan Danau Maninjau
tidak dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik aktif. Perairan memiliki pH netral hingga
basa (6,5 – 8,9), TDS rendah (<0,105 g/L), dan didominasi ion bikarbonat yang
mencerminkan sistem penyangga karbonat. Sulfida terakumulasi di lapisan
hipolimnion dengan konsentrasi maksimum 0,425 mg/L. Korelasi positif antara
karbon dan sulfur (r = 0,73, p = 0,016) dalam sedimen menunjukkan bahwa sulfida
terutama dihasilkan oleh reduksi sulfat secara biotik yang memanfaatkan bahan
organik dari aktivitas KJA, bukan dari sumber magmatik.
Stratifikasi termal kolom air dikendalikan oleh kondisi meteorologis, terutama suhu
udara, radiasi matahari, dan kecepatan angin. Peningkatan suhu udara dan masukan
panas dari radiasi matahari memperkuat stratifikasi, sedangkan penurunan suhu
udara dan peningkatan angin mendorong pencampuran vertikal. Secara musiman,
stratifikasi umumnya menguat pada pertengahan tahun dan melemah pada awal
serta akhir tahun. Nilai Indeks stratifikasi (SI/Stratification index)) tertinggi terjadi
pada Juni 2015, Mei 2016, dan Juni 2017, masing-masing sebesar 1962,20 J/m2,
2393,22 J/m2, dan 1181,84 J/m2. Rata-rata tahunan menunjukkan kecenderungan
melemah dari 1416,57 J/m2 (2015) menjadi 1038,00 J/m2 (2016) dan 788,38 J/m2
(2017). Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pada kecepatan angin rendah,
suhu udara menjadi pengendali utama pembentukan stratifikasi, sedangkan
pencampuran lebih mudah terjadi ketika Tmax ? 25,7 °C dan kecepatan angin ? 2
m/s.
Simulasi hidrodinamika menunjukkan bahwa distribusi suhu dan arus sangat
dipengaruhi oleh angin. Model mampu mereproduksi suhu hasil observasi dengan
baik, dengan Root Mean Square Error (RMSE) 0,052–0,095 °C dan skill score (SS)
0,890–0,984. Stratifikasi terkuat terjadi pada Mei–Juni, ditandai gradien suhu
permukaan barat–timur hingga 0,18 °C dan termoklin pada kedalaman sekitar 30
m. Sebaliknya, pada Oktober dan Desember stratifikasi melemah dengan gradien
suhu maksimum sekitar 0,04 °C. Angin dominan yang berhembus dari barat ke
timur mendorong arus permukaan ke arah yang sama. Pada Oktober dan Desember,
kondisi ini menyebabkan distribusi stratifikasi menjadi tidak merata secara spasial.
Bagian barat danau menunjukkan suhu kolom air yang lebih homogen, sehingga
berpotensi lebih tinggi mengalami umbalan sulfida.
Simulasi dinamika sulfida menunjukkan bahwa faktor biogeokimia, terutama bahan
organik, berperan dominan dalam mengontrol konsumsi oksigen dan akumulasi
sulfida Keluaran model umumnya lebih rendah dibandingkan hasil pengamatan,
dengan RMSE DO 0,11 mg/L, Fe 0,38 mg/L, dan Mn 0,77 mg/L. Dekomposisi
bahan organik menyumbang 98,899–99,290% dari total konsumsi oksigen,
sehingga menjadi penyebab utama terbentuknya kondisi anoksik di kolom air.
Namun, naiknya sulfida ke lapisan atas dihambat oleh proses oksidasi, terutama
oleh MnO? (89,974–90,658%), sedangkan kontribusi FeOOH lebih kecil (8,283
8,938%). Oleh karena itu, penurunan oksigen terlarut tidak selalu diikuti oleh
kemunculan sulfida di permukaan. Secara spasial, wilayah dengan kepadatan KJA
tinggi menunjukkan risiko peningkatan sulfida yang lebih besar akibat tingginya
beban bahan organik.
Secara keseluruhan, fenomena tubo belerang di Danau Maninjau merupakan hasil
interaksi antara produksi sulfida secara biotik, dinamika stratifikasi yang
dikendalikan faktor meteorologis, dan proses hidrodinamika yang mengatur
pergerakan massa air. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengendalian
beban bahan organik serta pemahaman terhadap dinamika cuaca dan proses fisik
danau sebagai dasar mitigasi kejadian kematian massal ikan di Danau Maninjau.
Perpustakaan Digital ITB