PT VC Aero Bandung, produsen kedirgantaraan Tier-1 Indonesia untuk komponen
kendali terbang Airbus A320, memperoleh hampir seluruh bahan baku logamnya
dari pemasok Eropa bersumber tunggal, model yang secara historis didasarkan
pada kematangan sertifikasi namun kini menimbulkan landed cost yang terus
meningkat, lead time panjang dan berfluktuasi, serta risiko kontinuitas
terkonsentrasi, sementara persyaratan AS9100, NADCAP, dan kualifikasi Airbus
membatasi peralihan cepat ke pemasok regional. Penelitian ini mengkaji
bagaimana arsitektur sourcing dirancang ulang untuk menyeimbangkan efisiensi
biaya, ketanggapan, dan kepatuhan, melalui tiga pertanyaan mengenai faktor
pembentuk landed cost, dampak jaringan pemasok pada lead time dan kontinuitas,
serta kelayakan pemasok regional dan nearshore. Desain mixed-methods
eksplanatori berurutan menggabungkan analisis kuantitatif data pembelian,
landed cost, dan pengiriman untuk 124 nomor komponen (116 jenis billet dan 8
forging near-net) dari tiga pemasok tunggal Eropa dengan wawancara pakar
pengadaan, kualitas pemasok, dan kepatuhan, menerapkan Transaction Cost
Economics, Institutional Theory, dan Supply Chain Risk Management melalui
pemodelan Total Cost of Ownership, pemetaan rantai pasok, pemodelan skenario,
analisis kesenjangan kinerja, dan Multi-Criteria Decision Analysis (MCDA). Hasil
penelitian menunjukkan landed cost TA2025 sekitar USD 10,98 juta didominasi
harga material (72%), lead time pemesanan-ke-penerimaan rata-rata 42 minggu
(26–53, ±8 minggu) bersumber pada kapasitas forging dan melt hulu, bukan
logistik, berbanding persediaan pengaman hanya tiga–lima minggu, dan seluruh
124 nomor komponen bersumber tunggal dengan penghentian lini telah terjadi.
Pemodelan skenario dan MCDA menunjukkan konfigurasi hibrida 36/64 sebagai
yang optimal (4,15 dibandingkan 3,75 regional-dominan dan 3,40 Eropa
dominan): mempertahankan forging Primary Flight Control di Eropa sambil
meregionalisasi billet Secondary Flight Control menghasilkan estimasi penurunan
landed cost 19% dan perbaikan lead time 13 minggu tanpa memindahkan
komponen kritis penerbangan, didukung dual sourcing, substitusi billet
terkualifikasi, konsolidasi pengiriman, renegosiasi Incoterm, lindung nilai valuta,
dan program kualifikasi pemasok bertahap 12–18 bulan. Penelitian ini
menyumbangkan kerangka keputusan terintegrasi dan berorientasi praktik: biaya,
risiko, dan kepatuhan dapat dioptimalkan secara simultan dalam rantai pasok
kedirgantaraan teregulasi.
Perpustakaan Digital ITB