Partikulat halus berdiameter kurang dari 2,5 ?m (PM2,5) merupakan salah satu parameter kualitas udara yang berkaitan dengan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular. Di kawasan perkotaan, emisi lalu lintas kendaraan bermotor menjadi kontributor utama penyumbang PM2,5. Kebijakan Car Free Day (CFD), melalui pembatasan sementara kendaraan bermotor pada ruas tertentu, berpotensi memperbaiki kualitas udara lokal, tetapi dapat memicu pergeseran beban pencemaran ke ruas jalan alternatif akibat pengalihan arus lalu lintas. Untuk mengevaluasi fenomena tersebut, pengukuran konsentrasi PM2,5 dilakukan dengan metode pemantauan bergerak menggunakan sensor berbiaya rendah pada dua lokasi CFD Kota Bandung, yaitu Dago dan Buah Batu. Analisis spasial dilakukan menggunakan buffer radius 20 meter. Signifikansi perbedaan konsentrasi antar koridor dievaluasi melalui model Linear Mixed-Effects (LME), pengaruh faktor meteorologi diuji dengan korelasi Spearman, dan estimasi dosis inhalasi dihitung berbasis jarak tempuh (per kilometer). Hasil analisis menunjukkan distribusi PM2,5 yang bervariasi antar sesi dan lokasi. Namun, tidak ditemukan tren peningkatan polusi yang konsisten di jalur pengalihan arus. Model LME menunjukkan konsentrasi PM2,5 pada hari CFD menurun di ruas yang ditutup maupun di jalur alternatif, yaitu -21,6% dan -19,7% di Dago serta -3,6% dan -5,9% di Buah Batu. Selanjutnya, penurunan temperatur dan peningkatan kelembapan berkontribusi terhadap peningkatan konsentrasi PM2,5. Estimasi dosis inhalasi tertinggi terjadi pada kelompok usia bayi dan anak-anak yang melakukan aktivitas intensitas berat, dengan estimasi dosis inhalasi maksimum sebesar 12,468 ?g kg-1 hari-1 (Dago) dan 11,289 ?g kg-1 hari-1 (Buah Batu).
Perpustakaan Digital ITB