digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sabang merupakan salah satu kawasan destinasi unggulan di Provinsi Aceh yang terletak di Pulau Weh dan merupakan titik nol kilometer ujung paling barat Indonesia. Sebagai bagian dari Provinsi Aceh yang dikenal dengan julukan ”Serambi Mekkah”, pengembangan pariwisata di kawasan ini tidak hanya didasarkan pada potensi sumber daya alam, tetapi juga dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam dan kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat. Keindahan bentang pesisir, kekayaan ekosistem laut, serta tingginya keanekaragaman hayati menjadikan kawasan ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata bahari berkelanjutan. Salah satu daya tarik utamanya adalah Pantai Teupin Layeu Iboih atau Pantai Iboih yang berada di Desa Iboih, Kecamatan Sukamakmue, Kota Sabang, Aceh, serta menjadi ikon wisata bahari Pulau Weh karena menyuguhkan panorama laut yang jernih, ekosistem terumbu karang, dan berbagai aktivitas wisata berbasis alam seperti snorkeling dan diving yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Kawasan Iboih juga berhadapan langsung dengan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Pulau Rubiah, kawasan konservasi laut yang didukung oleh nilai sejarah melalui bangunan Karantina Haji Pulau Rubiah serta kearifan lokal masyarakat Aceh yang diwujudkan dalam peran lembaga adat Panglima Laot sebagai pengelola sumber daya laut secara tradisional. Namun, pengembangan kawasan Pantai Iboih masih menghadapi beberapa tantangan, antara lain kondisi terumbu karang yang belum sepenuhnya pulih dan rentan terhadap tekanan aktivitas wisata, belum tersedianya kajian potensi wisata yang komprehensif, serta keterbatasan anggaran dalam mendukung pengelolaan dan pengawasan kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi dan kelayakan wisata, menganalisis nilai manfaat ekonomi dengan Individual Travel Cost Method (ITCM), menganalisis peran stakeholder, dan menyusun strategi pengembangan ekowisata bahari berkelanjutan. Pengambilan data dilakukan dengan cara observasi lapangan, wawancara mendalam, penyebaran kuesioner dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan meliputi Analisis Daerah Operasi Objek dan Daya Tarik Wisata Alam (ADO-ODTWA) untuk menilai kelayakan wisata, analisis regresi linear beganda untuk memperoleh fungsi pemintaan wisata, surplus konsumen, dan nilai manfaat ekonomi, analisis Power-interest Matrix untuk memetakan peran stakeholder serta analisis strategi melalui penyusunan Internal Factor Evaluation (IFE) dan Eksternal Factor Evaluation (EFE) berbasis Triple Bottom Line (TBL), SWOT, dan diprioritaskan menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). Hasil penelitian menunjukkan Pantai Teupin Layeu Iboih memiliki indeks kelayakan 88,60% dan layak untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata bahari. Analisis ITCM menunjukkan bahwa aktivitas wisata bahari memberikan nilai manfaat ekonomi tahunan yang tinggi berbasis daya dukung kawasan (carrying capacity) sebesar Rp 1.127.219.709.240 dengan nilai surplus konsumen per indivu per kunjungan sebesar Rp 6.728.264. Nilai tersebut menunjukkan bahwa wisatawan memperoleh manfaat yang jauh lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk berkunjung. Hasil analisis stakeholder menempatkan stakeholder Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS), Dinas Pariwisata Kota Sabang, Panglima Laot, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) merupakan aktor kunci (Key Player) yang memiliki pengaruh dan kepentingan tinggi dalam pengembangan ekowisata bahari, Kepala Desa sebagai context setter yang memiliki pengaruh besar dan perlu terus diperkuat kepentinganya, sedangkan operator diving, travel agent, masyarakat lokal, dan pemilik penginapan yang memiliki kepentingan tinggi terhadap kelestarian ekosistem namun pengaruh formal yang masih terbatas, sedangkan kuadran Crowd ditempati oleh peneliti, nelayan, media, dan pedagang kuliner. Berdasarkan hasil analisis SWOT dan QSPM, strategi prioritas yang direkomendasikan adalah (1) pengembangan coral garden melalui paket wisata Coral Planting Garden, yaitu kegiatan wisata yang mengajak wisatawan berpartisipasi langsung dalam penanaman atau transplantasi terumbu karang. Kegiatan ini dipadukan dengan edukasi mengenai pentingnya terumbu karang bagi ekosistem pesisir serta aktivitas snorkeling dan diving di kawasan rehabilitasi, (2) pengembangan paket wisata terpadu dan multidestinasi melalui paket wisata tematik Serambi Mekah Coastal Experience untuk meningkatkan keterpaduan destinasi dan mengurangi dampak keterbatasan aksesibilitas, (3) penerapan sistem manajemen kunjungan berbasis daya dukung kawasan dan distribusi kunjungan.