Transportasi merupakan bagian penting dalam pengalaman wisata karena menghubungkan wisatawan dengan berbagai daya tarik di dalam destinasi. Kota Bukittinggi memiliki daya tarik wisata yang relatif terkonsentrasi pada kawasan inti dan berjarak berdekatan, dengan penggunaan moda transportasi yang beragam. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola pergerakan wisatawan di Kota Bukittinggi serta perbedaannya berdasarkan moda transportasi, karakteristik wisatawan, dan karakteristik kunjungan, sekaligus menganalisis persepsi terhadap kualitas perjalanan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 179 wisatawan yang mengunjungi sekurang-kurangnya dua daya tarik wisata dalam satu rangkaian perjalanan. Rangkaian perjalanan direkonstruksi berdasarkan urutan kunjungan dan perpindahan antarlokasi, kemudian dianalisis menggunakan Trip Chain, Origin-Destination Matrix, sistem informasi geografis, tipologi pola pergerakan, serta uji statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pergerakan wisatawan cenderung pendek dan terkonsentrasi pada kawasan inti, dengan Jam Gadang dan Pasar Atas sebagai simpul utama. Wisatawan rata-rata mengunjungi 3,75 daya tarik wisata dalam 2,64 segmen perjalanan dan didominasi pola point-to-point sebesar 61,45%. Meskipun mobil dan sepeda motor menjadi moda utama bagi 81,56% responden, tidak terdapat perbedaan pola pergerakan yang signifikan antarkelompok moda maupun hubungan antara moda transportasi dan tipologi perjalanan. Sebaliknya, jenis kelamin membedakan seluruh indikator pola pergerakan, sedangkan usia menunjukkan perbedaan pada beberapa indikator. Persepsi terhadap kualitas perjalanan secara umum positif, dengan kemacetan sebagai kendala utama yang dirasakan wisatawan. Penelitian menyimpulkan bahwa moda transportasi utama tidak terbukti membedakan pola pergerakan wisatawan di Kota Bukittinggi. Pola tersebut lebih mencerminkan karakter destinasi yang kompak dan terpusat, dengan berjalan kaki berperan penting dalam sirkulasi antardaya tarik dan dilakukan oleh 83,80% responden. Oleh karena itu, peningkatan mobilitas wisatawan lebih tepat diarahkan pada penguatan konektivitas pejalan kaki, pengelolaan parkir dan lalu lintas kawasan inti, serta peningkatan layanan angkutan.
Perpustakaan Digital ITB