BAB 1 Ferry Ferdiansah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Ferry Ferdiansah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Ferry Ferdiansah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Ferry Ferdiansah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Ferry Ferdiansah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Ferry Ferdiansah
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Debu batubara respirabel merupakan salah satu bahaya utama pada penambangan
batubara bawah tanah dengan metode longwall karena dapat terdispersi di
sepanjang longwall face dan terakumulasi pada zona pernapasan pekerja.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pola distribusi debu batubara respirabel,
mengevaluasi pengaruh kecepatan ventilasi terhadap konsentrasi debu,
menentukan kondisi ventilasi optimum, serta mengestimasi penerapan water spray
sebagai pengendalian tambahan. Pemodelan dilakukan menggunakan Komputasi
Fluida Dinamis dan Discrete Phase Model (DPM) pada ANSYS Fluent 2025 R1
dengan model turbulensi Standard ???? ? ???? dan pendekatan one-way coupling.
Simulasi dilakukan pada variasi kecepatan ventilasi 0,5–3,5 m/s dengan evaluasi
konsentrasi pada bidang ???? = 1,5m sebagai representasi zona pernapasan. Hasil
simulasi menunjukkan hubungan kecepatan ventilasi dan konsentrasi debu yang
non-linear dan non-monoton. Konsentrasi rata-rata meningkat dari 13,82 mg/m³
pada 0,5 m/s menjadi 24,42 mg/m³ pada 1,0 m/s, kemudian menurun hingga 3,68
mg/m³ pada 2,5 m/s. Pada 3,0 m/s, konsentrasi meningkat menjadi 4,51 mg/m³
sebelum kembali menurun menjadi 2,00 mg/m³ pada 3,5 m/s. Rentang kecepatan
1,5–2,5 m/s ditentukan sebagai kondisi optimum berdasarkan kestabilan
penurunan konsentrasi, dengan 2,5 m/s menghasilkan konsentrasi terendah dalam
rentang tersebut. Estimasi penerapan water spray dengan faktor reduksi
konservatif sebesar 68% menunjukkan penurunan konsentrasi debu pada seluruh
variasi kecepatan ventilasi. Pada kondisi ventilasi optimum 2,5 m/s, konsentrasi
debu menurun dari 3,68 mg/m³ menjadi 1,19 mg/m³, sedangkan konsentrasi
terendah diperoleh pada kecepatan 3,5 m/s sebesar 0,65 mg/m³ sehingga telah
memenuhi batas paparan NIOSH sebesar 1,0 mg/m³. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa optimasi ventilasi perlu mempertimbangkan efek dilusi, entrainment, dan
perubahan struktur aliran, sedangkan kombinasi optimasi ventilasi dan water
spray berpotensi meningkatkan pengendalian debu respirabel pada zona
pernapasan pekerja..
Perpustakaan Digital ITB