digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


COVER - Joy Russell Simangunsong
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 - Joy Russell Simangunsong
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 - Joy Russell Simangunsong
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 - Joy Russell Simangunsong
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 - Joy Russell Simangunsong
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 - Joy Russell Simangunsong
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA - Joy Russell Simangunsong
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN - Joy Russell Simangunsong
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

Pemanfaatan biomassa melalui co-firing pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dapat mengurangi konsumsi batu bara dan emisi karbon. Namun, kadar air biomassa yang tinggi menurunkan kualitas energinya sehingga diperlukan pengeringan. Penelitian ini menganalisis kebutuhan uap, sistem perpipaan, serta pengaruh lokasi ekstraksi terhadap kinerja dan biaya operasional pembangkit. Model PLTU Tanjung Jati B Unit 3 dibangun dan divalidasi menggunakan Aspen Plus, sedangkan perpipaan uap disimulasikan menggunakan Aspen HYSYS. Sistem pengeringan dimodelkan sebagai black box berdasarkan neraca massa dan energi. Skenario ekstraksi HPT, IPT, dan LPT dievaluasi berdasarkan rugi perpipaan, kinerja pembangkit, biaya bahan bakar, dan potensi perdagangan karbon. Model dasar menghasilkan penyimpangan kurang dari 2% terhadap data acuan. Pengeringan 20 ton/jam biomassa dari kadar air 45% menjadi 30% membutuhkan kalor 4,268 MW dan uap sebesar 5,635 hingga 6,050 ton/jam. Ukuran pipa yang memenuhi kriteria untuk HPT, IPT, dan LPT masing-masing adalah NPS 3, NPS 6, dan NPS 10. Ekstraksi uap menurunkan daya serta meningkatkan heat rate dan konsumsi uap spesifik. Biomassa kering mampu menggantikan batu bara sebesar 8,844 ton/jam dan mengurangi kerugian biaya dibandingkan penggunaan biomassa basah. Substitusi tersebut berpotensi mengurangi emisi CO? fosil sebesar 137,7 hingga 140,2 ribu ton/tahun serta menambah potensi nilai perdagangan karbon sebesar Rp7,46 hingga Rp7,75 miliar/tahun.