digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pelabuhan Tanah Ampo merupakan pelabuhan pengumpul yang terletak di Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, yang memiliki peran dalam mendukung kegiatan transportasi laut dan pariwisata. Dalam perkembangannya, Pelabuhan Tanah Ampo mengalami permasalahan sedimentasi pada kolam pelabuhan dan alur pelayaran. Kondisi tersebut berkaitan dengan pola hidrodinamika dan tata letak breakwater eksisting yang memengaruhi distribusi gelombang, arus, dan transport sedimen serta berpotensi menyebabkan pembentukan tombolo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tata letak breakwater terhadap kondisi hidrodinamika dan perubahan dasar perairan serta menentukan alternatif tata letak yang paling optimal secara teknis. Metode penelitian dilakukan menggunakan pemodelan numerik dengan perangkat lunak MIKE 21, yang meliputi modul hidrodinamika, gelombang, dan transport sedimen. Pemodelan dilakukan secara terkopel untuk merepresentasikan interaksi antara gelombang, arus, dan transport sedimen. Data masukan meliputi batimetri, gelombang, pasang surut, arus, karakteristik sedimen, serta tata letak breakwater eksisting dan alternatif. Evaluasi dilakukan terhadap tiga alternatif tata letak berdasarkan pola arus, kondisi gelombang, dan perubahan bed level selama periode simulasi. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa tata letak breakwater eksisting menyebabkan akumulasi sedimen yang signifikan pada area kolam pelabuhan. Alternatif 1 menggunakan perpanjangan breakwater sebesar 195 m pada sisi barat dan 70 m pada sisi selatan, dengan erosi maksimum ?1,41 m dan sedimentasi maksimum +3,79 m. Alternatif 2 menggunakan perpanjangan 195 m pada sisi barat dan 140 m pada sisi selatan, dengan erosi maksimum ?1,06 m dan sedimentasi maksimum sekitar +0,55–0,60 m. Alternatif 3 menggunakan perpanjangan 260 m pada sisi barat dan 140 m pada sisi selatan, dengan erosi maksimum ?0,30 m dan sedimentasi maksimum +0,10 m. Tinggi gelombang pada Titik 3 dan 4 pada Alternatif 3 juga relatif lebih rendah, yaitu <0,25 m. Berdasarkan hasil perbandingan tersebut, Alternatif 3 dipilih sebagai tata letak breakwater yang paling optimal karena menghasilkan perubahan morfologi dasar perairan dan kondisi gelombang yang paling terkendali.