digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Andhika Dwi Prayogo
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Penelitian ini menganalisis pengaruh kondisi lingkungan tumbuh terhadap sifat fisik, morfologi aksial, dan struktur internal bambu apus (Gigantochloa apus) dari dataran rendah (Bojongmangu, Bekasi; ±53,25 mdpl) dan dataran tinggi (Sukasari, Sumedang; ±897 mdpl). Pengukuran parameter mikroklimat serta edafis dilakukan secara langsung dan didukung data sekunder. Evaluasi morfologi, kadar air segar, dan pencitraan non-destruktif Computed Tomography (CT) Scan dianalisis menggunakan uji statistik Mann-Whitney U, korelasi Spearman, serta segmentasi citra digital ImageJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan lingkungan tumbuh berdampak signifikan (p < 0,05) terhadap morfologi dan struktur internal batang. Bambu apus asal Bekasi menghasilkan ketebalan dinding batang yang jauh lebih tebal (1,06 cm), kadar air segar lebih tinggi (119,89%–138,34%), serta nilai porositas CT Scan sebesar 1,298% dengan grayscale index 95,70. Sebaliknya, bambu apus asal Sumedang memiliki diameter luar (5,40 cm), diameter dalam (4,26 cm), dan panjang ruas (52,22 cm) yang lebih besar, namun dengan dinding yang lebih tipis (0,40 cm), kadar air lebih rendah (70,32%–102,60%), porositas 1,158%, serta grayscale index yang lebih tinggi (110,74). Keadaan ini mengindikasikan strategi adaptasi ekofisiologis yang berbeda kondisi dataran rendah memicu penebalan sekunder dinding batang untuk penyimpanan air internal, sedangkan dataran tinggi yang sejuk lebih mengalokasikan energi untuk pertumbuhan primer. Berdasarkan karakteristik tersebut, bambu apus asal Bojongmangu direkomendasikan untuk pemanfaatan elemen struktural penahan beban aksial, sementara bambu asal Sukasari lebih sesuai untuk produk olahan berbasis serat seperti bilah laminasi dan komposit.