ABSTRAK Gelby Calista Syahzwa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Gelby Calista Syahzwa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Gelby Calista Syahzwa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Gelby Calista Syahzwa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Gelby Calista Syahzwa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Gelby Calista Syahzwa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Gelby Calista Syahzwa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Gelby Calista Syahzwa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Gelby Calista Syahzwa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Pemerataan layanan pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam
mewujudkan pembangunan perkotaan yang berkeadilan. Penelitian ini bertujuan
menganalisis pemerataan layanan pendidikan negeri berdasarkan prinsip spatial
equity melalui integrasi aspek supply, accessibility, dan demand. Analisis dilakukan
menggunakan pendekatan Urban Analytics dengan memanfaatkan Sistem
Informasi Geografis (SIG), analisis jaringan jalan (service area), estimasi populasi
WorldPop berbasis dasymetric mapping, pendekatan location-allocation, dan unit
analisis grid heksagonal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi sarana
pendidikan negeri di Kota Bandung masih belum merata dan cenderung semakin
terkonsentrasi pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Analisis keterjangkauan
berbasis jaringan jalan menunjukkan bahwa jenjang SD memiliki tingkat
keterjangkauan tertinggi dengan cakupan layanan sebesar 93,68% wilayah Kota
Bandung, diikuti SMA sebesar 91,70%, sedangkan SMP hanya mencapai 50,02%
sehingga menjadi jenjang dengan tingkat keterjangkauan paling rendah. Integrasi
antara aksesibilitas dan distribusi penduduk usia sekolah menunjukkan bahwa
kesenjangan spasial layanan pendidikan terbesar terjadi pada jenjang SMP, dengan
tingkat keterlayanan penduduk usia sekolah sebesar 84,54%, lebih rendah
dibandingkan SD (98,82%) dan SMA (94,13%). Berdasarkan identifikasi wilayah
prioritas, dilakukan pemodelan Maximum Coverage Location Problem (MCLP)
untuk mengidentifikasi lokasi indikatif penambahan sarana pendidikan pada zona
prioritas, yang menghasilkan 3 lokasi SD, 19 lokasi SMP, dan 6 lokasi SMA. Lokasi
yang dihasilkan bersifat indikatif dan belum mempertimbangkan sekolah swasta,
kapasitas sekolah, ketersediaan lahan, maupun aspek kelembagaan. Simulasi
menunjukkan bahwa rekomendasi tersebut mampu meningkatkan cakupan
penduduk usia sekolah terlayani menjadi 99,77% pada jenjang SD, 98,78% pada
jenjang SMP, dan 99,63% pada jenjang SMA. Dengan demikian, temuan ini
menunjukkan bahwa pemerataan layanan pendidikan negeri tidak cukup dinilai
berdasarkan jumlah fasilitas semata, tetapi perlu mempertimbangkan kesesuaian
antara sebaran sarana, keterjangkauan aktual melalui jaringan jalan, dan distribusi
kebutuhan penduduk usia sekolah untuk menghasilkan perencanaan fasilitas yang
lebih tepat sasaran dan berkeadilan.
Perpustakaan Digital ITB