digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Choirun Nisa
PUBLIC Open In Flipbook Resti Andriani

Kegiatan pertambangan batubara dapat meninggalkan lubang bekas tambang yang terisi air dan membentuk danau pascatambang (pit lake). Penelitian ini mengevaluasi opsi pemanfaatan pit lake berbasis jasa lingkungan dalam konteks regulasi dan perencanaan Kabupaten Kutai Timur. Opsi yang dibandingkan meliputi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung, sumber air baku, dan area konservasi. Seluruh opsi dianalisis pada unit pembanding spasial 1 ha area pit lake. Dampak lingkungan dihitung menggunakan Life Cycle Assessment (LCA) pada batas sistem A1–A5, yang mencakup penyediaan bahan baku, produksi komponen, transportasi, instalasi, dan konstruksi. Indikator lingkungan yang digunakan adalah Global Warming Potential 100 tahun (GWP100) dan Land Use Change (LUC). Data biaya investasi atau capital expenditure (CAPEX) serta Time to Stable Benefit (TSB) disintesis dari studi literatur. Keempat kriteria dievaluasi melalui Multi- Criteria Decision Making (MCDM) dengan pembobotan Rank-Order Centroid (ROC). Evaluasi dilakukan pada variasi urutan prioritas kriteria serta skenario batas bawah, nilai tengah, dan batas atas untuk data CAPEX dan TSB. Hasil menunjukkan bahwa PLTS terapung memiliki TSB paling singkat, tetapi menghasilkan GWP100 dan LUC tertinggi. Sumber air baku memiliki LUC terendah, sedangkan area konservasi memiliki GWP100 dan CAPEX yang relatif lebih rendah. Area konservasi lebih sering menempati peringkat pertama pada skenario batas bawah dan nilai tengah, sementara sumber air baku lebih sering menempati peringkat pertama pada skenario batas atas. Dengan demikian, rekomendasi pemanfaatan perlu disesuaikan dengan urutan prioritas kriteria dan skenario data yang digunakan oleh pengambil keputusan.