Kegiatan pertambangan batubara dapat meninggalkan lubang bekas tambang yang
terisi air dan membentuk danau pascatambang (pit lake). Penelitian ini
mengevaluasi opsi pemanfaatan pit lake berbasis jasa lingkungan dalam konteks
regulasi dan perencanaan Kabupaten Kutai Timur. Opsi yang dibandingkan
meliputi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung, sumber air baku, dan
area konservasi. Seluruh opsi dianalisis pada unit pembanding spasial 1 ha area pit
lake.
Dampak lingkungan dihitung menggunakan Life Cycle Assessment (LCA) pada
batas sistem A1–A5, yang mencakup penyediaan bahan baku, produksi komponen,
transportasi, instalasi, dan konstruksi. Indikator lingkungan yang digunakan adalah
Global Warming Potential 100 tahun (GWP100) dan Land Use Change (LUC). Data
biaya investasi atau capital expenditure (CAPEX) serta Time to Stable Benefit
(TSB) disintesis dari studi literatur. Keempat kriteria dievaluasi melalui Multi-
Criteria Decision Making (MCDM) dengan pembobotan Rank-Order Centroid
(ROC). Evaluasi dilakukan pada variasi urutan prioritas kriteria serta skenario batas
bawah, nilai tengah, dan batas atas untuk data CAPEX dan TSB.
Hasil menunjukkan bahwa PLTS terapung memiliki TSB paling singkat, tetapi
menghasilkan GWP100 dan LUC tertinggi. Sumber air baku memiliki LUC
terendah, sedangkan area konservasi memiliki GWP100 dan CAPEX yang relatif
lebih rendah. Area konservasi lebih sering menempati peringkat pertama pada
skenario batas bawah dan nilai tengah, sementara sumber air baku lebih sering
menempati peringkat pertama pada skenario batas atas. Dengan demikian,
rekomendasi pemanfaatan perlu disesuaikan dengan urutan prioritas kriteria dan
skenario data yang digunakan oleh pengambil keputusan.
Perpustakaan Digital ITB