digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika pembinaan atlet sepak bola kelompok usia melalui kajian longitudinal pada Piala Soeratin U15 tahun 2023 hingga Piala Soeratin U17 tahun 2025 di Provinsi Jawa Barat. Fokus penelitian diarahkan pada tingkat retensi dan dropout pemain pada fase transisi dari U15 ke U17, fenomena late entry pada kategori U17, serta pengaruh Relative Age Effect (RAE) terhadap keberlanjutan partisipasi atlet muda. Pendekatan longitudinal digunakan untuk melacak keberlanjutan partisipasi pemain antar kelompok usia dalam rentang waktu dua tahun. Data diperoleh dari daftar pemain resmi dan dokumen registrasi kompetisi yang terintegrasi dengan sistem PSSI (SIAP), mencakup distribusi tanggal lahir, status retensi, dropout, dan late entry. Analisis dilakukan secara kuantitatif dengan mengelompokkan pemain ke dalam kuartil usia kelahiran (Q1–Q4) dan menguji hubungan antara kuartil usia dengan status retensi, dropout, dan late entry menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat retensi pemain dari U15 ke U17 relatif rendah, dengan hanya 19,55% pemain U15 yang tercatat kembali pada kompetisi U17 dua tahun kemudian. Analisis statistik menunjukkan bahwa RAE berpengaruh signifikan terhadap retensi dan dropout pemain pada fase U15, di mana pemain yang lahir pada kuartil awal tahun (Q1–Q2) memiliki peluang lebih besar untuk bertahan hingga U17, sementara pemain dari kuartil akhir (Q3–Q4) cenderung mengalami dropout lebih tinggi. Sebaliknya, RAE tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap fenomena late entry pada kategori U17, yang didominasi oleh pemain baru yang tidak berasal dari sistem kompetisi U15 sebelumnya. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa RAE berperan terutama sebagai mekanisme seleksi dan eliminasi dini dalam pembinaan sepak bola usia muda, namun tidak menentukan peluang masuk ke sistem pada usia remaja akhir. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya penerapan pendekatan pembinaan jangka panjang yang lebih inklusif dan berorientasi pada perkembangan individu, guna meminimalkan kehilangan atlet potensial pada tahap awal pengembangan.