Capaian literasi matematika siswa Indonesia masih jauh di bawah rata-rata
internasional sehingga diperlukan pendekatan evaluasi yang mampu mengkaji
struktur hubungan antarvariabel penilaian secara multidimensi. Penelitian ini
menerapkan Analisis Komponen Utama (AKU), Analisis Korespondensi (AK),
dan Analisis Korespondensi Berganda (AKB) pada data ketercapaian pembelajaran
matematika dari 157 SMA di Provinsi Jawa Barat. Data tersebut mencakup
tiga dimensi penilaian, yaitu proses kognitif, tingkat kesulitan soal, dan konten
materi. Hasil AKU menunjukkan bahwa Komponen Utama Pertama (KU1)
mampu menjelaskan lebih dari 83% variansi pada tiga dimensi penilaian sehingga
dapat diinterpretasikan sebagai ukuran capaian keseluruhan tiap sekolah. Hasil
AK mengungkap bahwa penalaran dan pemecahan masalah berkorelasi positif,
tetapi berlawanan dengan konsep. Sementara itu, soal bertipe mudah dan
sukar berkorelasi negatif dan membentuk dua kutub yang berlawanan. Adapun
geometri dan trigonometri berasosiasi searah, tetapi berlawanan dengan data,
peluang, dan statistika. Hasil AKB dengan inersia terkoreksi kumulatif sebesar
87,6% menunjukkan bahwa soal bertipe sukar cenderung menuntut penalaran dan
pemecahan masalah. Sementara itu, soal matematika lanjutan dan trigonometri
cenderung bersifat lebih prosedural. Di sisi lain, soal aljabar berasosiasi dengan
pemahaman konsep dasar. Selain itu, status sekolah negeri dan swasta tidak
menunjukkan perbedaan profil yang ekstrem. Tiga metode tersebut secara bersamasama
memberikan gambaran komprehensif mengenai ketercapaian pembelajaran
matematika sebagai dasar perancangan strategi peningkatan yang lebih tepat sasaran.
Perpustakaan Digital ITB