digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Adninda Fitri Risdianto
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Limpasan air tawar sungai tidak hanya mempengaruhi perairan di sekitar muara, melainkan juga meluas hingga ke laut lepas, serta mempengaruhi kondisi oseanografis di wilayah sekitarnya. Penelitian ini mengkaji pengaruh masukan air tawar sungai terhadap sebaran salinitas dan sirkulasi arus di Selat Badung menggunakan pemodelan sirkulasi laut tiga dimensi (MITgcm) melalui komparasi tiga skenario: kontrol tanpa masukan sungai (no-river), fluks permukaan aktual (Real Freshwater Flux, RFF), dan penambahan volume fluida lokal (Point-Source Input, PSI). Pemodelan dikonfigurasi pada resolusi spasial tinggi ( m) memanfaatkan data debit sungai dari Balai Hidrologi dan Lingkungan Keairan (BHLK) yang disesuaikan kebutuhan pemodelan, gaya penggerak atmosfer ERA5, pasang surut TPXO9, serta kondisi batas model induk Selat Lombok. Hasil simulasi menunjukkan bahwa representasi air tawar di pemodelan berpengaruh pada distribusi salinitas di pesisir. Untuk sungai dengan debit besar di Selat Badung, efek air tawar dapat dirasakan hingga satu sampai dua kilometer lepas pantai bergantung pada kondisi perairan. Masukan air tawar dinilai kurang mempengaruhi sirkulasi arus untuk pemodelan regional pada daerah kajian. Skenario RFF secara konsisten menghasilkan pengenceran salinitas, luasan plume horizontal (mencapai dua kali lipat), dan penetrasi vertikal yang lebih besar dibanding Point-Source Input (PSI). Dampak salinitas RFF terdeteksi hingga beberapa kilometer dari muara, sedangkan PSI menghasilkan plume yang lebih sempit dan terkonsentrasi di dekat muara, khususnya pada sungai berdebit kecil. Hasil ini menunjukkan bahwa RFF lebih efektif untuk pemodelan limpasan skala regional Selat Badung, sementara PSI lebih sesuai untuk analisis dinamika lokal di sekitar muara.