digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Produksi batu bara di Indonesia mencapai 817,48 juta ton pada tahun 2025, tetapi data kuantitatif yang komprehensif mengenai perbandingan dampak lingkungan antara metode penambangan hybrid dan conventional dalam konteks lokal Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan dampak lingkungan dari proses produksi batu bara menggunakan pendekatan life cycle assessment (LCA) pada dua perusahaan, yaitu PT X yang menerapkan metode penambangan hybrid dan PT Y yang menerapkan metode penambangan conventional. Batasan sistem yang digunakan adalah cradle-to-gate dengan unit fungsional 1 ton produksi batu bara. Penilaian dampak dilakukan menggunakan metode ReCiPe 2016 midpoint (H) melalui perangkat lunak openLCA pada enam kategori dampak, antara lain global warming; terrestrial acidification; fine particulate matter formation; fossil resource scarcity; ozone formation, human health; dan human non-carcinogenic toxicity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penambangan hybrid menghasilkan dampak lebih rendah pada kategori global warming (26,07 vs 33,89 kg CO2-eq), terrestrial acidification (0,13 vs 0,17 kg SO2-eq), fossil resource scarcity (6,24 vs 8,89 kg oil- eq), dan ozone formation, human health (0,26 vs 0,36 kg NOX-eq). Sebaliknya, metode conventional menghasilkan dampak lebih rendah pada fine particulate matter formation (0,08 vs 0,10 kg PM2.5-eq) dan human non-carcinogenic toxicity (1,79 vs 5,40 kg 1,4-DCB). Proses overburden removal teridentifikasi sebagai hotspot lingkungan dengan kontribusi sekitar 74% pada seluruh kategori dampak.