Produksi batu bara di Indonesia mencapai 817,48 juta ton pada tahun 2025, tetapi
data kuantitatif yang komprehensif mengenai perbandingan dampak lingkungan
antara metode penambangan hybrid dan conventional dalam konteks lokal
Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan
membandingkan dampak lingkungan dari proses produksi batu bara menggunakan
pendekatan life cycle assessment (LCA) pada dua perusahaan, yaitu PT X yang
menerapkan metode penambangan hybrid dan PT Y yang menerapkan metode
penambangan conventional. Batasan sistem yang digunakan adalah cradle-to-gate
dengan unit fungsional 1 ton produksi batu bara. Penilaian dampak dilakukan
menggunakan metode ReCiPe 2016 midpoint (H) melalui perangkat lunak
openLCA pada enam kategori dampak, antara lain global warming; terrestrial
acidification; fine particulate matter formation; fossil resource scarcity; ozone
formation, human health; dan human non-carcinogenic toxicity. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa metode penambangan hybrid menghasilkan dampak lebih
rendah pada kategori global warming (26,07 vs 33,89 kg CO2-eq), terrestrial
acidification (0,13 vs 0,17 kg SO2-eq), fossil resource scarcity (6,24 vs 8,89 kg oil-
eq), dan ozone formation, human health (0,26 vs 0,36 kg NOX-eq). Sebaliknya,
metode conventional menghasilkan dampak lebih rendah pada fine particulate
matter formation (0,08 vs 0,10 kg PM2.5-eq) dan human non-carcinogenic toxicity
(1,79 vs 5,40 kg 1,4-DCB). Proses overburden removal teridentifikasi sebagai
hotspot lingkungan dengan kontribusi sekitar 74% pada seluruh kategori dampak.
Perpustakaan Digital ITB