Beban lalu lintas berulang dan suhu tinggi dapat memicu deformasi permanen serta
retak lelah pada lapis permukaan jalan beraspal. Stone Mastic Asphalt (SMA)
memiliki struktur agregat stone-on-stone dengan kadar mastik tinggi, sehingga
digunakan untuk memperoleh campuran yang unggul dalam kestabilan. Integrasi
Asbuton yang kaku pada campuran yang juga kaku perlu mengantisipasi kinerja
campuran terhadap kekakuannya. Di sisi lain, campuran beraspal di Indonesia
masih didominasi skema produksi suhu tinggi. Teknologi Warm Mix Asphalt
(WMA) melalui pembusaan mekanis dapat menurunkan suhu pencampuran tetapi
kajian mengenai penerapan foam Asbuton pada SMA masih terbatas. Penelitian ini
mengevaluasi kinerja laboratorium SMA hangat menggunakan foam Asbuton
(FWSMA), dengan SMA hangat berbasis Aspha-Min (ZWSMA) sebagai
pembanding kinerja.
Rancangan campuran menggunakan Superpave Gyratory Compactor dengan kadar
aspal optimum 6,70%. Foam Asbuton diproduksi melalui direct water injection
dengan Foam Water Content optimum 2,2%, sedangkan Aspha-Min digunakan
sebesar 0,3% terhadap berat campuran. Agregat untuk FWSMA dipanaskan hingga
suhu sekitar 148 °C, lebih rendah daripada HMA suhu 175 °C. Modulus resilien
diuji pada suhu 25, 35, dan 41 °C. Kuat lelah diuji dengan four-point bending pada
kondisi controlled strain, suhu 20 °C, dan frekuensi beban 10 Hz, dengan kriteria
kegagalan berupa penurunan 50% kekakuan awal.
Modulus resilien FWSMA masing-masing sebesar 6.059, 1.759, dan 1.277 MPa
pada suhu 25, 35, dan 41 °C. Nilai tersebut lebih rendah daripada ZWSMA pada
suhu 25 dan 35 °C tetapi lebih tinggi pada suhu 41 °C. Retensi modulus FWSMA
pada suhu 41 °C mencapai 21,1% dari nilai pada suhu 25 °C, sedangkan ZWSMA
mempertahankan 12,5%. Pada pengujian fatigue, FWSMA memerlukan rentang
regangan 250–450 ?? untuk mencapai kriteria kegagalan, sedangkan ZWSMA
berada pada 190–220 ??. Berdasarkan persamaan fatigue life, pada target 20.000–
30.000 siklus FWSMA mampu menerima regangan sekitar 376–425 ??, atau sekitar
2,0–2,2 kali ZWSMA. Hasil tersebut menunjukkan bahwa FWSMA memiliki
kekakuan awal lebih rendah namun mampu mempertahankan modulus lebih baik
pada suhu tertinggi pengujian dan menerima regangan berulang yang lebih besar
pada umur lelah yang setara. Dalam konteks penelitian ini, foam Asbuton dapat
diterapkan pada SMA hangat dengan kinerja yang memadai berdasarkan parameter
modulus resilien dan kuat lelah.
Perpustakaan Digital ITB