Penambangan memerlukan tingkat keyakinan yang tinggi sehingga dibutuhkan metode estimasi yang akurat. Tingkat kesalahan atau penyimpangan dari data reconciliation terhadap data estimasi sering terjadi sehingga mempengaruhi kinerja proses maupun pemanfaatan tambang itu sendiri. Sementara estimasi sumberdaya adalah fondasi keputusan tambang namun sering mengalami deviasi. Estimasi yang dianggap terbaik saat ini yaitu metode Ordinary Kriging (OK) mengalami efek smoothing dan underestimated ketidakpastian, sedangkan ketidakpastian domain geologi sering diabaikan padahal berdampak signifikan pada tonase dan kadar. Penelitian ini mengembangkan Internal Confidence Framework (ICF) berbasis simulasi kondisional untuk mengintegrasikan ketidakpastian kadar dan domain guna klasifikasi sumberdaya berbasis risiko. Metode meliputi Sequential Gaussian Simulation (SGS) dengan metrik Relative Uncertainty 90 (RU90), Sequential Indicator Simulation (SIS) untuk domain, serta integrasi melalui prinsip weakest link. Hasil menunjukkan ICF konsisten antar domain yang berbeda pada Relative Kriging Standard Daeviation (RKSD) yang inkonsisten. Data yang berisi analisa kimia nikel laterit dan juga spasialnya menghasilkan hubungan spasi data dengan ketidakpastian terkonfirmasi negatif kuat, dengan peningkatan spasi 25 menjadi 100 m meningkatkan RU90 59% pada limonit (0,22 menjadi 0,35) dan 78% pada saprolit (0,41 menjadi 0,73). OK menghasilkan smoothing kuat dengan penurunan varians 61% pada nikel saprolit, sementara simulasi mempertahankan varians data dan mengungkapkan ketidakpastian domain sebagai weakest link. Penelitian menegaskan keunggulan ICF dalam merefleksikan realitas geologi melalui multiple realization. Implikasi praktisnya, ICF memungkinkan risk-based mine planning, optimasi infill drilling, serta pelaporan sumberdaya sesuai standar di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB