Penetapan harga kopi Arabika specialty idealnya mencerminkan kualitas produk yang dihasilkan.
Namun, dominasi atribut simbolik seperti asal wilayah seringkali memunculkan ketidakselarasan
antara mutu objektif kopi yang terukur dan nilai ekonomi aktual yang diterima di pasar. Penelitian
eksploratif-asosiatif ini bertujuan untuk menganalisis variasi profil sensori kopi Arabika specialty
antar wilayah, mengevaluasi faktor-faktor yang berasosiasi dengan pembentukan harga, serta
merumuskan rekomendasi strategi pengelolaan bagi UMKM. Sebanyak 30 observasi sampel
(n=30) dari 22 UMKM di lima wilayah produksi utama (Aceh, Jawa Barat, Sumatera Barat,
Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara) dianalisis profil sensorinya. Dari jumlah tersebut, 20
sampel (n=20) dengan data harga pasar yang valid dievaluasi lebih lanjut dalam pemodelan
ekonomi. Analisis dilakukan menggunakan RStudio melalui metode Principal Component
Analysis (PCA), korelasi Pearson, uji Kruskal-Wallis, dan Hedonic Price Model (HPM). Hasil
PCA menunjukkan bahwa dua komponen utama mampu menjelaskan 78,19% variasi total profil
sensori. Uji korelasi mengindikasikan adanya hubungan positif tingkat moderat antara ketinggian
lahan dengan atribut Flavor dan Aftertaste, sementara faktor iklim tidak menunjukkan korelasi
yang signifikan. Selain itu, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada skor cupping berdasarkan
metode pascapanen maupun variasi varietas. Analisis HPM mengonfirmasi adanya
ketidakselarasan antara kualitas objektif dan pembentukan harga; skor cupping tidak berasosiasi
signifikan terhadap harga pasar. Sebaliknya, atribut pengolahan dan identitas wilayah
mendominasi valuasi pasar, di mana metode Washed diestimasi menurunkan harga sebesar 36,5%
dibandingkan metode Anaerobik. Model juga mengidentifikasi tingginya koefisien harga pada
wilayah tertentu yang berpotensi tumpang tindih dengan strategi harga entitas UMKM terkait.
Sebagai tindak lanjut, dirumuskan strategi Marketing Mix (4P) sebagai rekomendasi preskriptif
awal bagi UMKM, yang meliputi penerapan value-based pricing, peningkatan transparansi
informasi atribut produk, serta diferensiasi berbasis proses pascapanen. Strategi ini diharapkan
mampu menjadi kerangka awal untuk meningkatkan apresiasi pasar terhadap kualitas objektif
kopi.
Perpustakaan Digital ITB