digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penetapan harga kopi Arabika specialty idealnya mencerminkan kualitas produk yang dihasilkan. Namun, dominasi atribut simbolik seperti asal wilayah seringkali memunculkan ketidakselarasan antara mutu objektif kopi yang terukur dan nilai ekonomi aktual yang diterima di pasar. Penelitian eksploratif-asosiatif ini bertujuan untuk menganalisis variasi profil sensori kopi Arabika specialty antar wilayah, mengevaluasi faktor-faktor yang berasosiasi dengan pembentukan harga, serta merumuskan rekomendasi strategi pengelolaan bagi UMKM. Sebanyak 30 observasi sampel (n=30) dari 22 UMKM di lima wilayah produksi utama (Aceh, Jawa Barat, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara) dianalisis profil sensorinya. Dari jumlah tersebut, 20 sampel (n=20) dengan data harga pasar yang valid dievaluasi lebih lanjut dalam pemodelan ekonomi. Analisis dilakukan menggunakan RStudio melalui metode Principal Component Analysis (PCA), korelasi Pearson, uji Kruskal-Wallis, dan Hedonic Price Model (HPM). Hasil PCA menunjukkan bahwa dua komponen utama mampu menjelaskan 78,19% variasi total profil sensori. Uji korelasi mengindikasikan adanya hubungan positif tingkat moderat antara ketinggian lahan dengan atribut Flavor dan Aftertaste, sementara faktor iklim tidak menunjukkan korelasi yang signifikan. Selain itu, tidak ditemukan perbedaan signifikan pada skor cupping berdasarkan metode pascapanen maupun variasi varietas. Analisis HPM mengonfirmasi adanya ketidakselarasan antara kualitas objektif dan pembentukan harga; skor cupping tidak berasosiasi signifikan terhadap harga pasar. Sebaliknya, atribut pengolahan dan identitas wilayah mendominasi valuasi pasar, di mana metode Washed diestimasi menurunkan harga sebesar 36,5% dibandingkan metode Anaerobik. Model juga mengidentifikasi tingginya koefisien harga pada wilayah tertentu yang berpotensi tumpang tindih dengan strategi harga entitas UMKM terkait. Sebagai tindak lanjut, dirumuskan strategi Marketing Mix (4P) sebagai rekomendasi preskriptif awal bagi UMKM, yang meliputi penerapan value-based pricing, peningkatan transparansi informasi atribut produk, serta diferensiasi berbasis proses pascapanen. Strategi ini diharapkan mampu menjadi kerangka awal untuk meningkatkan apresiasi pasar terhadap kualitas objektif kopi.