digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Riwayat kejadian kebakaran, ketersediaan layanan pemadam kebakaran, dan perbedaan karakteristik spasial antarwilayah di Kota Bandung menunjukkan perlunya analisis kesenjangan spasial layanan pemadam kebakaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemerataan layanan pemadam kebakaran melalui identifikasi kesenjangan spasial antara ketersediaan dan kebutuhan layanan. Kesenjangan spasial dianalisis menggunakan pendekatan supply-demand oriented dengan metode analisis spasial meliputi network analysis, analisis multikriteria, building-based dasymetric estimation population, MCLP, dan location-allocation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan layanan didominasi oleh kategori sedang (42%), diikuti kategori rendah (37%) dan tinggi (21%). Sementara itu, tingkat kebutuhan berdasarkan kerawanan kebakaran didominasi kategori sedang (52%), diikuti kategori rendah (27%) dan tinggi (21%). Berdasarkan kesesuaian antara tingkat ketersediaan dan kebutuhan, terdapat kesenjangan spasial layanan pemadam kebakaran yang ditunjukkan oleh wilayah berkategori low supply-high demand (2,7%), medium supply-high demand (11,3%), dan low supplymedium demand (15,4%). Wilayah tersebut menjadi prioritas peningkatan layanan, sehingga hasil analisis kebutuhan dan optimasi lokasi fasilitas menghasilkan rekomendasi enam pos baru yang mampu menurunkan persentase wilayah prioritas sebesar 15%. Temuan ini menunjukkan bahwa layanan pemadam kebakaran di Kota Bandung masih menghadapi tantangan pemerataan, yang ditunjukkan oleh adanya kesenjangan akibat ketidaksesuaian antara ketersediaan layanan dan variasi kebutuhan antarwilayah. Pemerataan layanan tidak hanya ditentukan oleh distribusi fasilitas, tetapi juga oleh kesesuaian antara ketersediaan dan kebutuhan yang dipengaruhi oleh faktor aksesibilitas, karakteristik penduduk, karakteristik fisik kawasan, dan histori kebakaran. Oleh karena itu, peningkatan layanan perlu disesuaikan dengan karakteristik wilayah melalui penambahan dan distribusi fasilitas, peningkatan aksesibilitas, maupun penataan kawasan.