ABSTRAK Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Ahmalia Firdausa
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Riwayat kejadian kebakaran, ketersediaan layanan pemadam kebakaran, dan
perbedaan karakteristik spasial antarwilayah di Kota Bandung menunjukkan
perlunya analisis kesenjangan spasial layanan pemadam kebakaran. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis pemerataan layanan pemadam kebakaran melalui
identifikasi kesenjangan spasial antara ketersediaan dan kebutuhan layanan.
Kesenjangan spasial dianalisis menggunakan pendekatan supply-demand oriented
dengan metode analisis spasial meliputi network analysis, analisis multikriteria,
building-based dasymetric estimation population, MCLP, dan location-allocation.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketersediaan layanan didominasi oleh
kategori sedang (42%), diikuti kategori rendah (37%) dan tinggi (21%). Sementara
itu, tingkat kebutuhan berdasarkan kerawanan kebakaran didominasi kategori
sedang (52%), diikuti kategori rendah (27%) dan tinggi (21%). Berdasarkan
kesesuaian antara tingkat ketersediaan dan kebutuhan, terdapat kesenjangan spasial
layanan pemadam kebakaran yang ditunjukkan oleh wilayah berkategori low
supply-high demand (2,7%), medium supply-high demand (11,3%), dan low supplymedium demand (15,4%). Wilayah tersebut menjadi prioritas peningkatan layanan,
sehingga hasil analisis kebutuhan dan optimasi lokasi fasilitas menghasilkan
rekomendasi enam pos baru yang mampu menurunkan persentase wilayah prioritas
sebesar 15%. Temuan ini menunjukkan bahwa layanan pemadam kebakaran di
Kota Bandung masih menghadapi tantangan pemerataan, yang ditunjukkan oleh
adanya kesenjangan akibat ketidaksesuaian antara ketersediaan layanan dan variasi
kebutuhan antarwilayah. Pemerataan layanan tidak hanya ditentukan oleh distribusi
fasilitas, tetapi juga oleh kesesuaian antara ketersediaan dan kebutuhan yang
dipengaruhi oleh faktor aksesibilitas, karakteristik penduduk, karakteristik fisik
kawasan, dan histori kebakaran. Oleh karena itu, peningkatan layanan perlu
disesuaikan dengan karakteristik wilayah melalui penambahan dan distribusi
fasilitas, peningkatan aksesibilitas, maupun penataan kawasan.
Perpustakaan Digital ITB