Iradiasi batu topaz di Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS) dilakukan
untuk menghasilkan perubahan warna batu topaz melalui interaksi dengan neutron.
Posisi iradiasi di dalam teras memiliki fluks neutron yang tinggi sehingga dapat
mempercepat proses iradiasi. Namun, tingginya komponen neutron termal pada
posisi tersebut dapat meningkatkan aktivasi unsur pengotor di dalam batu topaz,
sehingga berpotensi memperpanjang waktu pendinginan pasca iradiasi. Oleh
karena itu, diperlukan upaya modifikasi spektrum neutron agar kontribusi neutron
termal dapat berkurang tanpa menurunkan fluks neutron cepat secara signifikan.
Dalam penelitian ini, modifikasi spektrum neutron dilakukan dengan menggunakan
pengarah topaz berlapis boron karbida (B4C) yang berperan sebagai penyerap
neutron termal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan
pengarah topaz berlapis B4C terhadap parameter neutronik teras reaktor RSG-GAS,
meliputi perubahan reaktivitas, faktor puncak daya atau power peaking factor
(PPF), serta distribusi fluks neutron termal, epitermal, dan cepat. Selain itu,
penelitian ini juga bertujuan menentukan posisi iradiasi yang paling sesuai untuk
penggunaan pengarah topaz B4C dengan tetap mempertahankan batas keselamatan
operasi reaktor. Batas keselamatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
perubahan reaktivitas tidak melebihi ±0,5% ?k/k dan PPF radial tidak melebihi
1,40. Tahapan penelitian diawali dengan evaluasi posisi iradiasi di dalam teras yang
sebelumnya digunakan untuk iradiasi topaz, yaitu posisi irradiation position (IP)
grid B-6, D-9, E-4, dan G-7. Selanjutnya, dilakukan evaluasi terhadap beberapa
posisi iradiasi di reflektor berilium sebagai alternatif lokasi iradiasi yang
diharapkan memberikan gangguan neutronik lebih kecil terhadap teras. Perhitungan
neutronik dilakukan menggunakan BATAN-2DIFF dan BATAN-3DIFF untuk
memperoleh perubahan reaktivitas, distribusi PPF radial dan aksial, serta distribusi
fluks neutron. Hasil perhitungan kemudian dibandingkan dengan hasil eksperimen
pada posisi A-2 dan H-1 untuk menilai kesesuaian antara model perhitungan dan
kondisi aktual eksperimen. Selain itu, dilakukan kajian variasi ketebalan B4C untuk
menentukan konfigurasi yang efektif dalam menurunkan fluks neutron termal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasukan pengarah topaz B4C pada posisi IP menghasilkan reaktivitas negatif yang besar. Posisi B-6, D-9, E-4, dan G-7
masing-masing memberikan perubahan reaktivitas sekitar -1,55% sampai -1,62%
?k/k. Nilai tersebut melampaui batas keselamatan perubahan reaktivitas reaktor
RSG-GAS, sehingga posisi IP tidak direkomendasikan untuk iradiasi topaz dengan
pengarah B4C. Evaluasi PPF juga menunjukkan bahwa posisi IP menghasilkan nilai
PPF radial yang mendekati batas desain, terutama pada posisi E-4. Sebaliknya,
posisi iradiasi di reflektor berilium memberikan respon neutronik yang lebih aman.
Pada konfigurasi B4C tebal 3,0 mm, posisi A-2 menghasilkan perubahan reaktivitas
sebesar -0,17% ?k/k, sedangkan posisi H-1 menghasilkan perubahan reaktivitas
sebesar -0,03% ?k/k. Nilai PPF radial maksimum pada A-2 dan H-1 masing-masing
sebesar 1,20 dan 1,19, sedangkan PPF aksial relatif tetap pada sekitar 1,30. Hasil
eksperimen menunjukkan kecenderungan yang konsisten dengan hasil perhitungan.
Perubahan reaktivitas eksperimen pada posisi A-2 sebesar -0,16 ± 0,01% ?k/k,
sedangkan pada posisi H-1 sebesar -0,07 ± 0,01% ?k/k. Penggunaan pengarah B4C
juga terbukti efektif dalam menurunkan fluks neutron termal. Pada posisi A-2,
penurunan fluks neutron termal mencapai 73,76% berdasarkan eksperimen dan
68,58% berdasarkan perhitungan. Pada posisi H-1, penurunan fluks neutron termal
mencapai 55,43% berdasarkan eksperimen dan 48,17% berdasarkan perhitungan.
Pengaruh terhadap fluks neutron cepat relatif kecil, yaitu 4,49% berdasarkan
eksperimen dan 0,96% berdasarkan perhitungan pada posisi A-2. Hasil ini
menunjukkan bahwa B4C mampu menekan komponen neutron termal secara
signifikan, namun tetap mempertahankan kontribusi neutron cepat yang diperlukan
untuk iradiasi topaz. Berdasarkan keseluruhan hasil, posisi A-2 direkomendasikan
sebagai posisi utama iradiasi topaz dengan pengarah B4C karena memberikan
keseimbangan terbaik antara ketersediaan fluks neutron cepat, penurunan fluks
neutron termal, perubahan reaktivitas yang kecil, dan PPF yang aman. Posisi H-1
dapat digunakan sebagai posisi pembanding konservatif karena memberikan
gangguan reaktivitas paling kecil terhadap teras. Posisi G-2 dan J-9 dapat
dipertimbangkan sebagai alternatif lanjutan apabila diperlukan fluks neutron cepat
yang lebih tinggi, tetapi penggunaannya memerlukan kajian keselamatan tambahan.
Dengan demikian, pengarah topaz B4C tebal 3,0 mm pada posisi reflektor berilium,
khususnya A-2, merupakan konfigurasi yang aman dan efektif untuk modifikasi
spektrum neutron pada iradiasi topaz di RSG-GAS.
Perpustakaan Digital ITB