digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Dugamasa Coffee Shop, sebuah usaha kedai kopi yang telah berjalan di Bandung, berencana melakukan ekspansi dengan membuka cabang baru di kawasan Dago. Studi kelayakan ini diperlukan untuk menentukan apakah ekspansi tersebut menguntungkan bagi usaha. Analisis terdiri atas dua bagian utama, yaitu analisis pasar dan analisis finansial. Untuk analisis pasar, penulis menggunakan PESTLE, Porter's Five Forces, SWOT dan TOWS, segmentation, targeting, dan positioning (STP), penentuan ukuran pasar top down TAM, SAM, SOM, serta marketing mix (7Ps). Untuk analisis finansial, penulis menggunakan arus kas capital budgeting, termasuk perhitungan Weighted Average Cost of Capital (WACC) yang diestimasi dari parameter Damodaran, dan teknik capital budgeting yaitu Net Present Value, Internal Rate of Return, Payback Period, dan Profitability Index, selama horizon sepuluh tahun. Biaya operasional diturunkan dari laporan laba rugi cabang existing bulan April 2026 dan disesuaikan dengan skala cabang baru menggunakan cost scaling factor, dengan biaya personalia diskalakan menurut rasio transaksi serta utilitas dan biaya operasional lain menurut rasio luas bangunan. Karena lahan dimiliki oleh pemilik usaha, potensi pendapatan sewa yang hilang dibebankan kepada proyek sebagai opportunity cost. Analisis pasar menunjukkan serviceable available market sekitar 545.000 orang dan proyeksi pendapatan tahun pertama sekitar Rp 2,84 miliar pada tingkat capture yang masih berada dalam kapasitas fisik cabang baru. Berdasarkan analisis finansial, proyek menghasilkan net present value positif sekitar Rp 1,54 miliar, internal rate of return sebesar 34,7 persen, profitability index sebesar 2,76, dan discounted payback period sekitar lima tahun, yang menunjukkan bahwa ekspansi sebaiknya diterima. Kesimpulan kelayakan sensitif terhadap capture rate dan tetap positif selama capture rate berada di atas titik impas sekitar 0,573 persen. Kata kunci: Kedai Kopi; Studi Kelayakan; Capital Budgeting; Analisis Pasar; Ekspansi Usaha