digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PTBA menetapkan target peningkatan produksi batubara dari 50 juta ton pada tahun 2025 menjadi 100 juta ton pada tahun 2030 untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor, selaras dengan arah strategi manajemen. Namun demikian, kondisi geologi, hidrogeologi, serta keterbatasan ruang pada Pit BU menjadi tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui evaluasi teknis. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian kelayakan ekonomi yang komprehensif untuk memastikan bahwa strategi operasional yang dipilih layak dijalankan secara finansial dan mendukung tujuan bisnis jangka panjang perusahaan. Dengan mempertimbangkan keterbatasan yang dihadapi PTBA pada Pit BU, penilaian kelayakan investasi berbasis data teknis melalui skenario hipotetis strategi depresurisasi lereng dari perspektif geologi, hidrogeologi, dan perencanaan tambang menjadi aspek yang penting. Kompleksitas evaluasi teknis tersebut memerlukan pendampingan analisis finansial sebagai dasar pengambilan keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model finansial menggunakan metode Discounted Cash Flow dengan parameter utama berupa Payback Period, Discounted Payback Period, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitability Index (PI). Selain itu, analisis sensitivitas dan simulasi Monte Carlo dilakukan guna menggambarkan pengaruh fluktuasi pasar dan risiko operasional terhadap kelayakan investasi. Hasil analisis risiko finansial berbasis NPV menunjukkan bahwa strategi depresurisasi (Opsi 2) memberikan potensi finansial yang lebih baik dibandingkan kondisi tanpa depresurisasi (Opsi 1), terutama ditinjau dari hasil base case yang lebih stabil dan tingkat probabilitas kegagalan finansial yang lebih rendah. Meskipun demikian, pada skenario worst case kedua opsi masih menunjukkan potensi ketidaklayakan karena tingginya sensitivitas terhadap harga batubara. Dengan demikian, strategi depresurisasi direkomendasikan sebagai solusi optimasi jangka menengah yang paling layak, disertai dengan evaluasi lanjutan terhadap struktur biaya penambangan, volatilitas harga komoditas, serta potensi strategi hilirisasi untuk memperkuat ketahanan ekonomi proyek di masa mendatang