Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang ditularkan oleh
nyamuk Aedes dan penyebarannya dipengaruhi oleh faktor iklim, seperti suhu,
curah hujan, dan kelembapan relatif. Hubungan antara faktor iklim dan kejadian
DBD bersifat kompleks karena menunjukkan pola nonlinier serta efek keterlambatan
(lag), sehingga diperlukan pendekatan pemodelan yang mampu mengakomodasi
karakteristik tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan
nonlinier dan efek lag antara faktor iklim dan kejadian DBD, menentukan spesifikasi
model Distributed Lag Nonlinear Model (DLNM) terbaik, mengevaluasi
kemampuan prediktif model, serta menginterpretasikan hubungan antara faktor
iklim dan kejadian DBD berdasarkan estimasi Relative Risk (RR). Penelitian
ini menggunakan data bulanan periode Januari 2019 hingga Oktober 2024 pada
Kota Palu, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Buton Selatan, Kabupaten Buton
Utara, dan Kabupaten Buton. Variabel respons berupa jumlah kasus DBD,
sedangkan variabel prediktor meliputi suhu rata-rata, curah hujan, dan kelembapan
relatif. Pemodelan dilakukan menggunakan Distributed Lag Nonlinear
Model (DLNM) dalam kerangka Bayesian dengan distribusi Negative Binomial
dan pendekatan Integrated Nested Laplace Approximation (INLA). Pemilihan
model terbaik didasarkan pada nilai Mean Leave-One-Year-Out Cross Validation
(LOYO CV) dan Deviance Information Criterion (DIC), sedangkan evaluasi model
dilakukan menggunakan probabilitas outbreak, Receiver Operating Characteristic
(ROC), Area Under the Curve (AUC), dan Confusion Matrix. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa hubungan antara faktor iklim dan kejadian DBD bersifat
nonlinier dengan efek lag hingga lima bulan, dengan pola yang berbeda pada setiap
wilayah. Model terbaik di Kota Palu melibatkan curah hujan dan kelembapan
relatif, di Kabupaten Buton Selatan dan Kabupaten Buton hanya melibatkan curah
hujan, sedangkan di Kabupaten Buton Utara hanya melibatkan kelembapan relatif.
Adapun di Kabupaten Buton Tengah tidak ada variabel iklim yang terpilih, sehingga
model terbaiknya hanya memuat komponen temporal berupa efek musiman dan
efek antar tahun. Secara umum, variabel suhu tidak terpilih pada satu pun wilayah,
sedangkan curah hujan menjadi variabel iklim yang paling dominan. Evaluasi
menggunakan LOYO CV menunjukkan bahwa model mampu menggambarkan pola temporal kejadian DBD, meskipun kemampuan prediktifnya bervariasi antarwilayah.
Selain itu, estimasi Relative Risk menunjukkan bahwa besarnya risiko
DBD dipengaruhi oleh tingkat paparan faktor iklim dan waktu lag. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa pendekatan DLNM berbasis Bayesian mampu menggambarkan
hubungan kompleks antara faktor iklim dan kejadian DBD serta berpotensi
mendukung sistem peringatan dini dan pengendalian DBD yang lebih adaptif
terhadap kondisi iklim di masing-masing wilayah.
Perpustakaan Digital ITB