ABSTRAK Annisa Rezkya Adinda
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Annisa Rezkya Adinda
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Annisa Rezkya Adinda
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Annisa Rezkya Adinda
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Annisa Rezkya Adinda
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Annisa Rezkya Adinda
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Annisa Rezkya Adinda
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Annisa Rezkya Adinda
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Annisa Rezkya Adinda
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Fenomena urbanisasi yang berlangsung masif di wilayah perkotaan pesisir
berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem pesisir, khususnya hutan bakau
yang memiliki peran peran penting dalam menyerap dan menyimpan karbon
sebagai salah satu upaya dalam memitigasi perubahan iklim. Sebagai bagian dari
wilayah ibu kota DKI Jakarta yang memiliki tingkat urbanisasi tinggi sekaligus
wilayah yang memiliki ekosistem hutan bakau di pesisirnya, Jakarta Utara
mengalami perkembangan perkotaan yang pesat dan menghadapi tantangan dalam
menyeimbangkan antara pembangunan dengan pelestarian ekosistem hutan bakau.
Dalam hal ini, arah kebijakan tata ruang wilayah menjadi faktor penting bagi
perkembangan kota sekaligus perlindungan kawasan pesisir. Namun, kajian yang
mengintegrasikan analisis historis arah kebijakan tata ruang, dinamika urbanisasi,
perubahan tutupan lahan hutan bakau, dan penyimpanan karbon di Jakarta Utara
masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis dampak arah
kebijakan tata raung wilayah terhadap dinamika urbanisasi, dampak urbanisasi
terhadap perubahan tutupan lahan hutan bakau, serta mengestimasi penyimpanan
karbon pada ekosistem hutan bakau di Jakarta Utara secara historis selama periode
1995 – 2025. Penelitian ini menggunakan mix method dengan desain concurrent
triangulation. Analisis dilakukan melalui content analysis terhadap dokumen
RTRW DKI Jakarta dan RTRW Jabodetabek-Punjur, analisis spasial menggunakan
Google Earth Engine dan ArcGis Pro, analisis statistik deskriptif, serta pemodelan
InVEST Carbon Storage and Sequestration.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa arah kebijakan tata ruang wilayah DKI
Jakarta mengalami perubahan orientasi pembangunan dari sektor industri menuju
sektor jasa dan diarahkan untuk dapat menjadi seperti kota besar dunia. Arah
pembangunan tersebut mendorong dinamika urbanisasi melalui pengembangan
pusat-pusat kegiatan ekonomi, peningkatan aksesibilitas transportasi, serta
penyediaan kawasan permukiman yang meningkatkan daya tarik Jakarta Utara
sebagai tujuan migrasi. Dinamika urbanisasi selama periode 1995 – 2025
ditunjukkan oleh meningkatnya persentase lahan terbangun, kepadatan penduduk,
dan kontribusi PDRB sektor tersier. Dinamika urbanisasi yang terjadi selamaviii
periode tersebut berdampak pada berkurangnya luas tutupan lahan bakau. Namun,
tidak terjadi secara masif. Meskipun pada periode 2005 – 2015 sempat mengalami
konversi luas 70,56 Ha menjadi lahan terbangun, yang diidentifikasi menjadi lahan
reklamasi, tetapi kemudian sejak tahun 2005 hingga 2025 luas hutan bakau
mengalami peningkatan luas sebesar 105 Ha. Peningkatan tersebut dikarenakan
adanya kegiatan penanaman kembali yang dilakukan oleh Komunitas setempat dan
Pemerintah DKI Jakarta. Perubahan luas hutan bakau ini memengaruhi dinamika
nilai penyimpanan karbon, di mana cadangan karbon ikut menurun pada periode
1995 – 2005 dari 267.389 ton C menjadi 212.143 ton C diakibatkan berkurangnya
luas hutan bakau, kemudian kembali meningkat dari 212.143 ton C menjadi
289.487 ton C di tahun 2005 – 2025.
Perpustakaan Digital ITB