ABSTRAK Christopher Maleakhi H.S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Christopher Maleakhi H.S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Christopher Maleakhi H.S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Christopher Maleakhi H.S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Christopher Maleakhi H.S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Christopher Maleakhi H.S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Christopher Maleakhi H.S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Christopher Maleakhi H.S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Christopher Maleakhi H.S.
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Pertumbuhan penduduk Kota Bandung yang terus meningkat mendorong
intensifikasi pembangunan dan alih fungsi lahan sekaligus menuntut pemanfaatan
lahan pada lokasi strategis secara optimal. Lahan bekas Palaguna Plaza seluas
10.143 m² yang berlokasi di Jalan Asia Afrika, Kecamatan Regol, Kota Bandung,
merupakan lahan terlantar di kawasan Pusat Pelayanan Kota (PPK). Kondisi ini
menimbulkan risiko pemanfaatan secara tidak sah dan menyebabkan hilangnya
nilai ekonomi lahan yang seharusnya dapat memberikan manfaat bagi pemerintah
seperti Penerimaan Asli Daerah Kota Bandung, investor, dan masyarakat.
Untuk mendapatkan alternatif pemanfaatan lahan yang optimal sehingga
meningkatkan PAD Kota Bandung, dilakukan penelitian menggunakan kerangka
analisis Highest and Best Use (HBU) yang mencakup prinsip physically possible,
legally permissible, financially feasible, dan maximally productive. Alternatif
pemanfaatan diuji yaitu hotel bintang 3, hotel bintang 4, hotel bintang 5, mall, dan
gedung kesenian/convention hall, melalui analisis produktivitas, delineasi pasar,
pasokan dan permintaan, marketabilitas, serta kelayakan finansial. Periode proyek
diproyeksikan selama 15 tahun menggunakan Discounted Cash Flow (DCF)
dengan indikator Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan
Payback Period pada tingkat diskonto 12%.
Hasil analisis menunjukkan bahwa mixed-use development yang terdiri dari hotel
bintang 5, mall, dan gedung kesenian/convention hall ditetapkan sebagai highest
and best use dengan utilisasi bangunan 88,87%, NPV>0, serta IRR>12%.
Pemanfaatan lahan dengan konsep ini diproyeksikan memberikan tambahan PAD
Kota Bandung sebesar Rp 37,39 miliar per tahun atau 1,23% dari PAD eksisting
tahun 2025.
Perpustakaan Digital ITB