Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki pada 3 November 2024 menghasilkan emisi
sulfur dioksida (SO2) ke atmosfer yang selanjutnya mengalami proses transpor dan
dispersi mengikuti kondisi meteorologi. Pengamatan satelit menunjukkan pola
sebaran plume pascaerupsi, namun informasi mengenai perkembangan dispersi SO2
secara horizontal dan vertikal pada berbagai lapisan atmosfer masih terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dispersi SO2 menggunakan model
FLEXPART serta pengaruh depoisis kering terhadap pengurangan SO2 di atmosfer.
Penelitian menggunakan data reanalisis ERA5, Sentinel-5P/TROPOMI, serta
laporan erupsi dari Darwin VAAC. Simulasi transpor dan dispersi SO2 dilakukan
menggunakan FLEXPART versi 11 dengan pendekatan Lagrangian dalam mode
forward simulation. Hasil simulasi dianalisis secara horizontal dan vertikal serta
dibandingkan dengan pengamatan Sentinel-5P/TROPOMI.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan arah angin secara vertikal
menyebabkan perbedaan arah dispersi SO2 pada setiap lapisan atmosfer. Angin
timuran mendominasi lapisan bawah hingga sekitar 8 km sehingga plume SO2
bergerak ke arah barat hingga barat laut. Sementara angin baratan mendominasi
pada lapisan 8-12 km mengarahkan plume ke timur hingga tenggara. Perbandingan
dengan observasi Sentinel-5P menunjukkan simulasi FLEXPART mampu
merepresentasikan arah transpor plume, meskipun terdapat perbedaan pada bentuk
plume dan distribusi spasial konsentrasi. Sementara itu, deposisi kering hanya
mencapai 1,12% dari estimasi total massa SO2, menunjukkan bahwa proses
transport dan dispersi atmosfer lebih dominan dalam menentukan distribusi SO2
selama periode erupsi dibandingkan deposisi kering.
Perpustakaan Digital ITB