Sumatra mengakomodasi tumbukan lempeng Indo-Australia yang men-subduksi
lempeng Eurasia. Manifestasi dari tumbukan tersebut telah menghasilkan serangkaian
gempabumi di sepanjang pantai barat Sumatra dan salah satunya adalah gempa
Simeuleu yang terjadi pada bulan Februari 2008.
Gempa Simeulue dengan magnitude 7.4 merupakan bagian dari rangkaian
gempa yang sudah terjadi sebelumnya sehingga penting untuk dilakukan studi
pemodelan gempa dari siklus gempa yang terjadi melalui pemantauan deformasi kerak
bumi. Teknologi GPS yang terus berkembang menjadi salah satu metoda yang handal
digunakan untuk pemantauan deformasi akibat gempa bumi. Sumatran GPS Array
network (SuGAr) sebagai stasiun GPS kontinyu yang di pasang di sepanjang pulau
Sumatra digunakan untuk studi deformasi akibat gempa.
Studi deformasi koseismik sebagai upaya pemantauan terjadinya pergeseran
pada saat gempa memberikan nilai pergeseran yang besar pada area disekitar episenter.
Dalam penelitian yang dilakukan besarnya deformasi koseismik pada gempa Simeulue
mengakibatkan pergeseran yang sangat signifikan pada stasiun gps SuGAr yang berada
di pulau Simeulue yaitu stasiun gps LEWK bergeser kearah barat daya sebesar 8.87 cm
dan stasiun gps BSIM bergeser kearah tenggara sebesar 1.87 cm dengan mekanisme
gempa berupa sesar naik (Reverse fault). Gempa Simeulue tidak memberi pengaruh
yang signifikan pada stasiun GPS yang berada diluar pulau Simeulue.
Perpustakaan Digital ITB