digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perubahan tutupan lahan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) sering memicu peningkatan bahaya erosi dan penurunan kualitas lahan. Partikel tanah tererosi yang terbawa aliran sungai ke wilayah muara juga berpengaruh terhadap dinamika wilyah pesisir. Teluk Blanakan Kabupaten Subang merupakan kawasan pesisir yang dinamis, ditandai oleh peristiwa akresi di sebagian besar garis pantainya. Hal ini berkaitan dengan proses erosi di wilayah DAS tiga sungai yang bermuara di Teluk Blanakan, yaitu Sungai Ciasem, Blanakan, dan Cilamaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika tutupan lahan dan tingkat bahaya erosi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cilamaya, Blanakan, dan Ciasem, Kabupaten Subang, pada periode 2000-2025, memproyeksikan kondisinya pada tahun 2035, serta merumuskan strategi biomanajemen pengendalian erosi. Data tutupan lahan diperoleh dari citra satelit Landsat multitemporal yang diklasifikasikan menggunakan algoritma Random Forest, sedangkan bahaya erosi diduga dengan model Universal Soil Loss Equation (USLE) yang mengintegrasikan faktor erosivitas hujan, erodibilitas tanah, panjang dan kemiringan lereng, pengelolaan tutupan, serta tindakan konservasi. Proyeksi tutupan lahan tahun 2035 dibangun melalui Land Change Modeller (LCM) dengan pemodelan potensi transisi berbasis DecisionForest (Random Forest) dan sejumlah variabel pendorong, kemudian divalidasi melalui tabulasi silang antara peta prediksi dan kondisi aktual tahun 2025. Hasil analisis menunjukkan terjadinya konversi tutupan alami menjadi penggunaan antropogenik: luas permukiman meningkat, hutan alam menurun pada periode 2000-2015 lalu pulih sebagian, dan hutan mangrove menyusut, sementara sawah tetap menjadi kelas terluas. Komposisi tingkat bahaya erosi relatif stabil dan didominasi kelas Sangat Ringan, namun kelas Sangat Berat bersifat persisten dan terkonsentrasi pada lahan berpenutup vegetasi rendah di lereng curam. Model prediksi memperoleh nilai Overall Kappa sebesar 0,6776 (p < 0,001), yang tergolong kesepakatan substansial sehingga layak digunakan untuk proyeksi tahun 2035. Strategi penurunan erosi disusun berbasis matriks tutupan lahan dan kelas lereng, menempatkan teknik vegetatif sebagai pilar utama penurun faktor pengelolaan tutupan dan teknik mekanik sebagai pendukung penurun faktor konservasi. Pada dua area contoh, penerapan agroforestri multistrata dan sabuk hijau riparian diperkirakan menurunkan erosi sebesar 96,7% pada zona yang ditangani dan 42,2% pada skala area contoh campuran, serta 91,2% pada area contoh perkebunan kelapa sawit. Pada zona permukiman, penerapan 83 sumur resapan dan 500 lubang resapan biopori berpotensi akan mengurangi limpasan permukaan, hingga puluhan persen pada hujan berintensitas ringan sampai sedang. Kerangka strategi ini bersifat generik sehingga dapat direplikasi ke wilayah lain dengan menyesuaikan parameter lokal.