Perubahan tutupan lahan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) sering memicu
peningkatan bahaya erosi dan penurunan kualitas lahan. Partikel tanah tererosi
yang terbawa aliran sungai ke wilayah muara juga berpengaruh terhadap dinamika
wilyah pesisir. Teluk Blanakan Kabupaten Subang merupakan kawasan pesisir
yang dinamis, ditandai oleh peristiwa akresi di sebagian besar garis pantainya. Hal
ini berkaitan dengan proses erosi di wilayah DAS tiga sungai yang bermuara di
Teluk Blanakan, yaitu Sungai Ciasem, Blanakan, dan Cilamaya. Penelitian ini
bertujuan menganalisis dinamika tutupan lahan dan tingkat bahaya erosi di Daerah
Aliran Sungai (DAS) Cilamaya, Blanakan, dan Ciasem, Kabupaten Subang, pada
periode 2000-2025, memproyeksikan kondisinya pada tahun 2035, serta
merumuskan strategi biomanajemen pengendalian erosi. Data tutupan lahan
diperoleh dari citra satelit Landsat multitemporal yang diklasifikasikan
menggunakan algoritma Random Forest, sedangkan bahaya erosi diduga dengan
model Universal Soil Loss Equation (USLE) yang mengintegrasikan faktor
erosivitas hujan, erodibilitas tanah, panjang dan kemiringan lereng, pengelolaan
tutupan, serta tindakan konservasi. Proyeksi tutupan lahan tahun 2035 dibangun
melalui Land Change Modeller (LCM) dengan pemodelan potensi transisi
berbasis DecisionForest (Random Forest) dan sejumlah variabel pendorong,
kemudian divalidasi melalui tabulasi silang antara peta prediksi dan kondisi aktual
tahun 2025. Hasil analisis menunjukkan terjadinya konversi tutupan alami
menjadi penggunaan antropogenik: luas permukiman meningkat, hutan alam
menurun pada periode 2000-2015 lalu pulih sebagian, dan hutan mangrove
menyusut, sementara sawah tetap menjadi kelas terluas. Komposisi tingkat bahaya
erosi relatif stabil dan didominasi kelas Sangat Ringan, namun kelas Sangat Berat
bersifat persisten dan terkonsentrasi pada lahan berpenutup vegetasi rendah di
lereng curam. Model prediksi memperoleh nilai Overall Kappa sebesar 0,6776 (p
< 0,001), yang tergolong kesepakatan substansial sehingga layak digunakan untuk
proyeksi tahun 2035. Strategi penurunan erosi disusun berbasis matriks tutupan
lahan dan kelas lereng, menempatkan teknik vegetatif sebagai pilar utama penurun
faktor pengelolaan tutupan dan teknik mekanik sebagai pendukung penurun faktor
konservasi. Pada dua area contoh, penerapan agroforestri multistrata dan sabuk
hijau riparian diperkirakan menurunkan erosi sebesar 96,7% pada zona yang
ditangani dan 42,2% pada skala area contoh campuran, serta 91,2% pada area
contoh perkebunan kelapa sawit. Pada zona permukiman, penerapan 83 sumur
resapan dan 500 lubang resapan biopori berpotensi akan mengurangi limpasan
permukaan, hingga puluhan persen pada hujan berintensitas ringan sampai
sedang. Kerangka strategi ini bersifat generik sehingga dapat direplikasi ke
wilayah lain dengan menyesuaikan parameter lokal.
Perpustakaan Digital ITB