digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abtrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Industri pandai besi merupakan sektor informal yang berpotensi menghasilkan pencemaran udara berupa partikulat halus PM2.5 dari proses pembakaran dan penempaan logam. Paparan PM2.5 secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan penurunan fungsi paru pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsentrasi PM2.5 di lingkungan kerja, menghitung nilai intake dan risiko kesehatan pekerja, serta menganalisis pengaruh intake PM2.5 terhadap fungsi paru pekerja pandai besi di Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran konsentrasi PM2.5 dilakukan menggunakan alat PurpleAir PA-II pada beberapa titik lokasi kerja. Subjek penelitian terdiri atas 20 pekerja pandai besi dan 10 responden kontrol. Analisis statistik dilakukan menggunakan uji ANCOVA dengan pengendalian variabel usia, berat badan, lama kerja, dan status merokok. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 sebesar 101,82 µg/m³, melebihi baku mutu PM2.5 berdasarkan Permenkes RI No. 2 Tahun 2023 sebesar 25 µg/m³. Sebagian besar pekerja memiliki nilai Hazard Quotient (HQ) > 1 yang menunjukkan adanya potensi risiko non-karsinogenik. Hasil uji ANCOVA menunjukkan bahwa intake PM2.5 berpengaruh signifikan terhadap rasio FEV1/FVC setelah dikontrol oleh variabel kovariat (p<0,05). Selain itu, berat badan juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap rasio FEV1/FVC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan intake PM2.5 berpotensi menurunkan fungsi paru pekerja pandai besi. Upaya pengendalian diperlukan melalui peningkatan ventilasi, penggunaan alat pelindung diri (APD), dan pemantauan kualitas udara secara berkala.