Industri pandai besi merupakan sektor informal yang berpotensi menghasilkan
pencemaran udara berupa partikulat halus PM2.5 dari proses pembakaran dan
penempaan logam. Paparan PM2.5 secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko
gangguan pernapasan dan penurunan fungsi paru pekerja. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis konsentrasi PM2.5 di lingkungan kerja, menghitung nilai intake
dan risiko kesehatan pekerja, serta menganalisis pengaruh intake PM2.5 terhadap
fungsi paru pekerja pandai besi di Desa Mekarmaju, Kabupaten Bandung.
Penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan
Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Pengukuran konsentrasi PM2.5
dilakukan menggunakan alat PurpleAir PA-II pada beberapa titik lokasi kerja.
Subjek penelitian terdiri atas 20 pekerja pandai besi dan 10 responden kontrol.
Analisis statistik dilakukan menggunakan uji ANCOVA dengan pengendalian
variabel usia, berat badan, lama kerja, dan status merokok. Hasil penelitian
menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 sebesar 101,82 µg/m³, melebihi baku
mutu PM2.5 berdasarkan Permenkes RI No. 2 Tahun 2023 sebesar 25 µg/m³.
Sebagian besar pekerja memiliki nilai Hazard Quotient (HQ) > 1 yang
menunjukkan adanya potensi risiko non-karsinogenik. Hasil uji ANCOVA
menunjukkan bahwa intake PM2.5 berpengaruh signifikan terhadap rasio
FEV1/FVC setelah dikontrol oleh variabel kovariat (p<0,05). Selain itu, berat badan
juga menunjukkan pengaruh signifikan terhadap rasio FEV1/FVC. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa peningkatan intake PM2.5 berpotensi menurunkan fungsi paru
pekerja pandai besi. Upaya pengendalian diperlukan melalui peningkatan ventilasi,
penggunaan alat pelindung diri (APD), dan pemantauan kualitas udara secara
berkala.
Perpustakaan Digital ITB