Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berbasis Moving Bed Biofilm Reactor
(MBBR) semakin banyak diadopsi untuk pengolahan air limbah domestik karena
efisiensinya dalam menyisihkan BOD, COD, dan amonia. Namun, operasionalnya
yang mengandalkan aerasi intensif berpotensi menimbulkan beban lingkungan
yang signifikan dan kajian kuantitatif mengenai hal ini di Indonesia masih sangat
terbatas. Penelitian ini menganalisis dampak lingkungan IPAL MBBR X di Jakarta
Selatan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan pendekatan
gate-to-gate dan metode karakterisasi CML Baseline 2001. Tiga kategori dampak
yang dikaji adalah Global Warming Potential (GWP), Acidification Potential (AP),
dan Eutrophication Potential (EP), dengan unit fungsional 1 m³ air limbah terolah.
Data operasional diperoleh selama periode Oktober–Desember 2025. Hasil analisis
menunjukkan nilai GWP sebesar 1,4091 kg CO?-eq/m³, AP sebesar 0,0303 kg SO?-
eq/m³, dan EP sebesar 0,024 kg PO?³?-eq/m³. Unit MBBR BOD/COD menjadi
hotspot utama untuk GWP (61,65%) dan AP (49,2%), yang sebagian besar didorong
oleh konsumsi energi blower aerasi. Temuan menarik diperoleh pada kategori EP
yaitu unit MBBR amonia mendominasi dampak eutrofikasi (42,16%) bukan karena
kandungan nutrien sisa di efluen, melainkan akibat pelepasan fosfor intraseluler
dari lisis sel bakteri nitrifikasi yang mengalami tekanan metabolik ditandai dengan
lonjakan total fosfor hingga 13,2 kali lipat. Tiga skenario perbaikan diusulkan yaitu
instalasi Solar Panel yang berpotensi menurunkan GWP sebesar 26,9% dan AP
sebesar 9,22%, Variable Frequency Drive (VFD) berpotensi menurunkan GWP
sebesar 14% dan AP sebesar 4,8%, serta peningkatan dosis PAC sebesar 30% untuk
menurunkan EP sebesar 3,89%. Analisis sensitivitas lanjut menunjukkan bahwa
dekarbonisasi jaringan listrik PLN dalam jangka panjang berpotensi memberikan
penurunan GWP hingga 79,6% pada skenario energi terbarukan penuh.
Perpustakaan Digital ITB