Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditangani
di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dan berkontribusi terhadap tingginya penggunaan
obat. Variasi pola peresepan serta belum optimalnya evaluasi penggunaan obat dan biaya terapi
berpotensi menyebabkan penggunaan obat yang kurang rasional dan pemborosan biaya. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis biaya resep obat ISPA di Klinik Pratama melalui
pendekatan Drug Utilization Research (DUR) berdasarkan profil peresepan, penggunaan obat, faktor
demografi, dan biaya resep. Penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-sectional
retrospektif ini menggunakan data rekam medis elektronik dan administrasi finansial pasien ISPA di
Klinik Pratama ITB periode Oktober–Desember 2025. Sebanyak 807 resep dianalisis menggunakan
metode total sampling, analisis deskriptif, ATC/DDD, serta uji Chi-Square dan Two-Sample t-Test.
Mayoritas pasien berjenis kelamin pria (51,8%), berusia 19–59 tahun (87%), dan peserta BPJS
Kesehatan (57,7%). Cefadroxil merupakan obat yang paling banyak diresepkan pada pasien BPJS,
sedangkan vitamin D3 1000 IU pada pasien non-BPJS. Secara keseluruhan kelompok obat yang
paling sering diresepkan adalah obat untuk mengatasi gejala batuk, pilek, dan flu. Nilai DDD tertinggi
terdapat pada cetirizine (987,00 DDD) dan cefadroxil (744,00 DDD). Rata-rata biaya resep pasien
BPJS lebih tinggi dibandingkan non-BPJS (Rp 19.181 SD ± 7.506 vs Rp 17.328 SD ± 6.720; p<0,001).
Antibiotik menjadi kontributor biaya terbesar pada pasien BPJS (32,01%), sedangkan obat batuk,
pilek, dan flu pada pasien non-BPJS (24,93%). Penggunaan obat ISPA di Klinik Pratama ITB
didominasi terapi simptomatik dan antibiotik. Terdapat perbedaan biaya resep yang bermakna
antara pasien BPJS dan non-BPJS, dengan antibiotik sebagai kontributor biaya terbesar pada pasien
BPJS.
Perpustakaan Digital ITB