digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Fadhil Arhab.pdf
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

COVER FADHIL ARHAB
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB1 FADHIL ARHAB
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB2 FADHIL ARHAB
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB3 FADHIL ARHAB
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB4 FADHIL ARHAB
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB5 FADHIL ARHAB
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA FADHIL ARHAB
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

Indonesia memiliki frekuensi seismik tinggi dengan aktivitas berupa gempa bumi seperti yang terjadi di Palu pada 28 September 2018. Gempa bumi yang terjadi berasosiasi dengan aktivitas pada sesar geser mengiri (sinistral strike-slip) PaluKoro yang menyebabkan kerugian berupa korban jiwa mencapai 2.037 orang, kerusakan infrastruktur seperti rumah 67.310 unit, fasilitas ibadah 99 unit, dan fasilitas kesehatan 20 unit. Oleh karena itu, diperlukan upaya mitigasi dalam meminimalisasi kerugian bencana alam di masa mendatang seperti pemantauan dengan GPS. Penelitian memanfaatkan data rekaman GPS dari tahun 2019 hingga 2022 berupa pergerakan (displacement) dari 10 stasiun yang tersebar di sekitar sesar Palu-Koro. Pada tahapan pertama, dilakukan pengolahan data rekaman GPS pada setiap stasiun sehingga dapat diketahui informasi seperti displacement dan perubahan displacement terhadap waktu (displacement vector). Berdasarkan pengolahan data rekaman GPS, didapatkan nilai dan arah dari displacement vector yang mengindikasikan pergerakan aktif pada bagian timur sesar Palu-Koro ke arah barat laut. Selanjutnya, dilakukan 5 jenis pemodelan menggunakan fungsi tunggal logaritmik, fungsi tunggal eksponensial, dan fungsi kombinasi yang dapat merepresentasikan deformasi pasca gempa bumi Palu 2018 di masa mendatang. Pada pemodelan, dilakukan proses perhitungan sehingga didapatkan nilai dari parameter yang tidak diketahui, offset dan amplitudo terkait waktu peluruhan, dan waktu peluruhan optimum melalui proses iterasi. Waktu peluruhan optimum yang diperoleh, yaitu 2459 hari (?log1.1), 3148 hari (?eks2.1), 1055 hari (?log3.1), 2367 hari (?eks3.1), 1531 hari (?log4.1), 1261 hari (?log4.2), 557 hari (?eks4.1), 5530 hari (?log5.1), 4540 hari (?eks5.1), dan 2889 hari (?eks5.2). Selain itu, dilakukan evaluasi terhadap kelima model sehingga diperoleh model 1 dan model 2 sebagai model terbaik berdasarkan pelemahan amplitudo dan nilai root mean square error (RMSE) sebesar 0,70038 mm dan 0,70044 mm