digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Daerah penelitian berlokasi di lereng bagian timur laut Gunung Malabar, termasuk dalam Kabupaten Bandung dengan luas area penelitian 72 km2. Mayoritas masyarakat di daerah penelitian menggunakan air tanah yang bersumber dari mata air untuk keperluan sehari-harinya. Namun di beberapa lokasi dekat mata air tidak jarang dijumpai limbah domestik maupun adanya indikasi oksida besi yang berpotensi sebagai zat pencemar air tanah. Oleh karena itu, diperlukannya penelitian terkait kondisi geologi, geomorfologi, hidrogeologi, kualitas air tanah, dan kerentanan air tanah terhadap pencemaran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah peninjauan ulang peta geologi di lapangan, pemetaan hidrogeologi, analisis kualitas air tanah untuk air minum berdasarkan TDS dan pH, dan analisis kerentanan air tanah dengan metode susceptibility index. Geomorfologi daerah penelitian terdiri dari Kaldera Malabar, Punggungan Aliran Lava dan Piroklastik Malabar, Kipas Aliran Lava dan Piroklastik Malabar, Punggungan Aliran Lahar Malabar, Kubah Lava Mekarjaya, Dataran Kaki Gunung Api Malabar, Lembah Citiis, dan Perbukitan Sisa Gunung Api Baleendah. Volkanostratigrafi daerah penelitian terbagi menjadi 18 satuan yang dibagi berdasarkan 2 khuluk dan 7 gumuk. Struktur geologi di daerah penelitian dijumpai kekar berlembar, Sesar Mengiri Turun Pangauban, Sesar Mengiri Citiis, Sesar Mengiri Turun Artapela, dan Sector Collapse Kawah Malabar. Hidrogeologi daerah penelitian dibagi menjadi 5 satuan hidrogeologi, yaitu Satuan Akuifer Breksi Piroklastik, Satuan Akuifer Breksi Laharik, Satuan Akuifer Rekahan Andesit, Satuan Akuifer Tuf-Lapili, dan Satuan Akuiklud. Hasil analisis kualitas air tanah menunjukkan bahwa seluruh mata air dan sumur masih layak minum berdasarkan TDS dan 12 mata air yang layak minum berdasarkan pH. Kerentanan air tanah metode Susceptibility Index (SI) dibagi menjadi lima kelas. Kerentanan sangat rendah menempati luasan 17 km2; kerentanan rendah 10 km2; kerentanan sedang 26 km2; kerentanan tinggi 16 km2; dan kerentanan sangat tinggi 4 km2. Faktor dominan yang mempengaruhi kerentanan di daerah penelitian adalah kemiringan lereng dan imbuhan air tanah. Validasi menggunakan koefisien korelasi antara nilai SI dengan TDS menunjukkan hasil yang cukup (0,407), sedangkan SI dengan pH menunjukkan hasil yang sangat rendah (0,121). Rendahnya nilai validasi disebabkan oleh terlalu beragamnya faktor yang mempengaruhi nilai TDS dan pH, sehingga diperlukan validasi lebih lanjut dengan data nitrat.