Daerah penelitian berlokasi di lereng bagian timur laut Gunung Malabar, termasuk
dalam Kabupaten Bandung dengan luas area penelitian 72 km2. Mayoritas
masyarakat di daerah penelitian menggunakan air tanah yang bersumber dari mata
air untuk keperluan sehari-harinya. Namun di beberapa lokasi dekat mata air tidak
jarang dijumpai limbah domestik maupun adanya indikasi oksida besi yang
berpotensi sebagai zat pencemar air tanah. Oleh karena itu, diperlukannya
penelitian terkait kondisi geologi, geomorfologi, hidrogeologi, kualitas air tanah,
dan kerentanan air tanah terhadap pencemaran. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah peninjauan ulang peta geologi di lapangan, pemetaan
hidrogeologi, analisis kualitas air tanah untuk air minum berdasarkan TDS dan pH,
dan analisis kerentanan air tanah dengan metode susceptibility index.
Geomorfologi daerah penelitian terdiri dari Kaldera Malabar, Punggungan Aliran
Lava dan Piroklastik Malabar, Kipas Aliran Lava dan Piroklastik Malabar,
Punggungan Aliran Lahar Malabar, Kubah Lava Mekarjaya, Dataran Kaki Gunung
Api Malabar, Lembah Citiis, dan Perbukitan Sisa Gunung Api Baleendah.
Volkanostratigrafi daerah penelitian terbagi menjadi 18 satuan yang dibagi
berdasarkan 2 khuluk dan 7 gumuk. Struktur geologi di daerah penelitian dijumpai
kekar berlembar, Sesar Mengiri Turun Pangauban, Sesar Mengiri Citiis, Sesar
Mengiri Turun Artapela, dan Sector Collapse Kawah Malabar.
Hidrogeologi daerah penelitian dibagi menjadi 5 satuan hidrogeologi, yaitu Satuan
Akuifer Breksi Piroklastik, Satuan Akuifer Breksi Laharik, Satuan Akuifer
Rekahan Andesit, Satuan Akuifer Tuf-Lapili, dan Satuan Akuiklud. Hasil analisis
kualitas air tanah menunjukkan bahwa seluruh mata air dan sumur masih layak
minum berdasarkan TDS dan 12 mata air yang layak minum berdasarkan pH.
Kerentanan air tanah metode Susceptibility Index (SI) dibagi menjadi lima kelas.
Kerentanan sangat rendah menempati luasan 17 km2; kerentanan rendah 10 km2;
kerentanan sedang 26 km2; kerentanan tinggi 16 km2; dan kerentanan sangat tinggi
4 km2. Faktor dominan yang mempengaruhi kerentanan di daerah penelitian adalah
kemiringan lereng dan imbuhan air tanah. Validasi menggunakan koefisien korelasi
antara nilai SI dengan TDS menunjukkan hasil yang cukup (0,407), sedangkan SI
dengan pH menunjukkan hasil yang sangat rendah (0,121). Rendahnya nilai validasi disebabkan oleh terlalu beragamnya faktor yang mempengaruhi nilai TDS
dan pH, sehingga diperlukan validasi lebih lanjut dengan data nitrat.
Perpustakaan Digital ITB