ABSTRAK Roni Junianto Sitompul
Terbatas Irwan Sofiyan
» ITB
Terbatas Irwan Sofiyan
» ITB
COVER Roni Junianto Sitompul
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Roni Junianto Sitompul
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Roni Junianto Sitompul
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Roni Junianto Sitompul
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Roni Junianto Sitompul
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Roni Junianto Sitompul
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Pekalongan merupakan salah satu sentra batik yang terkenal di Indonesia. Sejalan dengan kegiatan pembangunan ekonomi di wilayah Pekalongan menyebabkan peningkatan buangan limbah yang dan pengambilan air tanah dalam jumlah besar. Pembuangan limbah ke sungai dan pengambilan air tanah secara terus menerus dan berlebihan dapat menimbulkan dampak bencana lingkungan seperti sungai menjadi tercemar, penurunan muka air tanah, permukaan tanah (land subsidence), kerusakan akuifer tertekan, intrusi air laut, banjir, dan rob. Bencana ini dapat digolongkan menjadi bencana land subsidence dan air. Pemetaan bencana land subsidence dan air penting untuk menggambarkan dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari pembuangan limbah dan eksploitasi air tanah secara berlebihan di wilayah Pekalongan.
Pemetaan bencana land subsidence dan air menggunakan data penurunan muka tanah, intrusi air laut, sungai tercemar, banjir, dan rob. Data kemudian diinterpolasi, delineasi, dan dilakukan pembobotan untuk mengetahui daerah terdampak dan tidak terdampak. Selanjutnya dilakukan overlay menghasilkan peta land subsidence dan air. Hasil pemetaan dibuat grid untuk menghitung luasan yang terkena dampak.
Analisis geospasial terhadap bencana land subsidence dan air adalah semakin mendekati pesisir maka semakin banyak jumlah bencana. Tata guna lahan yang menjadi daerah terdampak adalah permukiman seluas 5.396,15 Ha (35,93%), pertanian seluas 4.877,54 Ha (32,48%), tambak seluas 2.260 Ha (15,05%), pertanian seluas 4.877,54 Ha (32.48%), tambak seluas 2.260 Ha (15,05%), rawa seluas 2.106,07 Ha (14,02%), sungai seluas 283,61 Ha (1,89%), industri seluas 34,20 Ha (0,23%), ruang terbuka hijau seluas 61,67 Ha (0,41%). Luas area terdampak adalah 1 bencana seluas 3.750,33 Ha, 2 bencana seluas 3.692,20 Ha, 3 bencana seluas 2.778,57 Ha, 4 bencana seluas 1.539,99 Ha, 5 bencana seluas 2.717,66 Ha, dan 6 bencana seluas 540,48 Ha.
Perpustakaan Digital ITB