digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


2011_TA_PP_MELINA_ANDARI_1-COVER.pdf
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

2011_TA_PP_MELINA_ANDARI_1-BAB1.pdf
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

2011_TA_PP_MELINA_ANDARI_1-BAB2.pdf
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

2011_TA_PP_MELINA_ANDARI_1-BAB3.pdf
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

2011_TA_PP_MELINA_ANDARI_1-BAB4.pdf
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan

2011_TA_PP_MELINA_ANDARI_1-BAB5.pdf
Terbatas  Latifa Noor
» Gedung UPT Perpustakaan


Cincau hijau (Premna oblongifolia Merr.) merupakan salah satu tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia sebagai bahan pembuatan isi minuman juga sebagai obat. Pada umumnya cincau dimanfaatkan dalam bentuk gel. Dilihat dari manfaatnya, tumbuhan cincau sangat potensial, sehingga perlu dibudidayakan. Selain itu, perlu juga dipelajari faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas daun cincau karena bagian tersebut yang paling banyak dimanfaatkan untuk menghasilkan gel. Dalam penelitian ini, dipelajari faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas daun, meliputi usia, media tanam, dan nutrien, serta dilakukan penentuan komposisi senyawa kimia dalam daun cincau dengan metode teknik Diffuse Reflectance Infrared Spectroscopy (DRIS). Dari penelitian ini, diperoleh spektrum IR komposisi senyawa penyusun daun yang diharapkan dapat merepresentasikan kualitas daun. Dengan begitu, pemanfaatan daun cincau dapat dilakukan secara maksimal, namun tetap efisien. Untuk melakukan analisis tersebut, dilakukan penanaman cincau dalam 3 media yang berbeda: tanah Lembang, sekam mentah, dan campuran tanah Lembang : sekam mentah (1:1, V/V). Pemberian nutrien dilakukan dengan pemupukan menggunakan larutan NPK sekali dalam seminggu. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa usia berpengaruh terhadap spektrum IR komposisi senyawa yang terkandung di dalam daun cincau. Untuk menentukan daun cincau yang paling baik kualitasnya, dilakukan juga karakterisasi meliputi penentuan kadar air, abu, mineral, lemak, serta karbohidrat. Penentuan kadar air dan abu dilakukan dengan metode gravimetri, kadar lemak dengan metode ekstraksi soxhlet, kadar mineral dengan metode spektrofotometri serapan atom (AAS) dan spektrofotometri emisi atom (AES), serta kadar karbohidrat dengan metode Anthrone. Secara umum untuk semua jenis media tanam, daun dengan usia muda memiliki kadar air yang lebih tinggi daripada daun tua. Sebaliknya, kadar abu pada daun usia muda lebih rendah daripada usia tua. Daun usia muda memiliki kadar lemak lebih tinggi daripada usia tua, kecuali untuk daun yang ditanam di dalam tanah Lembang. Daun dengan usia tua memiliki kadar karbohidrat lebih tinggi daripada daun usia muda, kecuali untuk daun yang ditanam dalam media campuran tanah Lembang : sekam mentah (1:1, V/V).