Harga batu bara yang berfluktuasi mengakibatkan risiko perubahan biaya pokok penyediaan
listrik oleh PT PLN akibat permintaan penyesuaian (adjustment) harga kontrak jangka
panjang oleh supplier batu bara. Penyesuaian harga kontrak terjadi sewaktu – waktu tanpa
dapat dihindari PLN. PLN tidak memiliki posisi tawar yang kuat di mata supplier karena
tidak adanya kepemilikan modal pada supplier batu bara. Selain itu tidak adanya kebijakan
pemerintah mengenai pembatasan ekspor batu bara (Domestic Market Obligation)
menyebabkan penjualan melalui eskpor lebih menguntungkan bagi supplier dibandingkan
penjualan melalui kontrak jangka panjang.
Untuk itu perlu ada usaha manajemen risiko dari PT PLN untuk menghadapi perubahan harga
batu bara dunia. Manajemen risiko yang dimaksud berupa penggunaan metode lindung nilai
(hedging) menggunakan instrumen derivatif futures yang bertujuan untuk mengurangi
variansi perubahan harga transaksi dan mengompensasi kerugian akibat kenaikan harga
transaksi.
Proses pertama sebelum dilakukannya hedging adalah membuat batasan yang jelas kapan
penyesuaian harga diperbolehkan. Pada penelitian ini dirancang beberapa skenario pembelian
: skenario pembelian dengan batasan diperbolehkannya penyesuaian saat harga pasar 50% di
atas harga kontrak ; 75% di atas harga kontrak ; 100% di atas harga kontrak; dan pembelian
sesuai harga pasar. Setelah jelas diketahui kapan penyesuaian dapat dilakukan, lalu dianalisis
penggunaan metode hedging. Penggunaan metode hedging yang diteliti adalah hedging
dengan hedge ratio = 1 dan hedging dengan hedge ratio minimum.
Hedging dengan ratio minimum (menggunakan model Johnson Stein) dapat digunakan untuk
meminimasi variansi perubahan harga transaksi asalkan nilai ratio minimum tersebut berada
pada kisaran 0 – 1 dan variansi perubahan harga transaksi tidak sama dengan nol. Sedangkan
metode hedging secara umum dapat mengompensasi kerugian pada saat terjadi kenaikan
harga futures. Semakin tinggi nilai ratio, semakin baik hedging mengompensasi kerugian di
pasar transaksi.
Dari analisis hedging untuk meminimasi / mengurangi variansi perubahan harga transaksi dan
kompensasi kerugian ini, lalu dilakukan perancangan metode penggunaan hedging untuk
menjawab kapan sebaiknya dilakukan hedging dan seberapa banyak futures contract mesti
dibeli untuk keperluan hedging (perhatikan gambar 4.5). Perancangan dilakukan dengan
memberikan prioritas utama pada metode hedging yang memberikan kompensasi kerugian
terbesar dengan ketentuan nilai variansi perubahan harga transaksi setelah hedging di bawah
nilai atau sama dengan variansi perubahan harga transaksi yang terjadi. Metode hasil
rancangan ini lalu diujikan pada contoh kasus delivery Januari – delivery Agustus 2004 yang
terbukti dapat memberikan penghematan biaya pembelian pada kisaran 22% – 28%
dibandingkan nilai transaksi tanpa hedging . Metode rancangan ini juga terbukti memberikan
penghematan lebih tinggi dibanding metode pembelian lainnya : hedging ratio minimum saja,
hedging dengan ratio satu saja, metode tanpa hedging. Nilai variansi perubahan harga hasil
metode rancangan pun terbukti lebih kecil atau sama dengan variansi perubahan harga
transaksi yang terjadi. Bila nilai penghematan tidak berbeda, maka penggunaan rancangan
metode yang direkomendasikan dan skenario nilai batas 50%, 75% dan 100 % di atas harga
kontrak dapat efektif menghemat 24% – 66 % pengeluaran PLN untuk penyesuaian harga
kontrak saat ini
Perpustakaan Digital ITB