digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Harga batu bara yang berfluktuasi mengakibatkan risiko perubahan biaya pokok penyediaan listrik oleh PT PLN akibat permintaan penyesuaian (adjustment) harga kontrak jangka panjang oleh supplier batu bara. Penyesuaian harga kontrak terjadi sewaktu – waktu tanpa dapat dihindari PLN. PLN tidak memiliki posisi tawar yang kuat di mata supplier karena tidak adanya kepemilikan modal pada supplier batu bara. Selain itu tidak adanya kebijakan pemerintah mengenai pembatasan ekspor batu bara (Domestic Market Obligation) menyebabkan penjualan melalui eskpor lebih menguntungkan bagi supplier dibandingkan penjualan melalui kontrak jangka panjang. Untuk itu perlu ada usaha manajemen risiko dari PT PLN untuk menghadapi perubahan harga batu bara dunia. Manajemen risiko yang dimaksud berupa penggunaan metode lindung nilai (hedging) menggunakan instrumen derivatif futures yang bertujuan untuk mengurangi variansi perubahan harga transaksi dan mengompensasi kerugian akibat kenaikan harga transaksi. Proses pertama sebelum dilakukannya hedging adalah membuat batasan yang jelas kapan penyesuaian harga diperbolehkan. Pada penelitian ini dirancang beberapa skenario pembelian : skenario pembelian dengan batasan diperbolehkannya penyesuaian saat harga pasar 50% di atas harga kontrak ; 75% di atas harga kontrak ; 100% di atas harga kontrak; dan pembelian sesuai harga pasar. Setelah jelas diketahui kapan penyesuaian dapat dilakukan, lalu dianalisis penggunaan metode hedging. Penggunaan metode hedging yang diteliti adalah hedging dengan hedge ratio = 1 dan hedging dengan hedge ratio minimum. Hedging dengan ratio minimum (menggunakan model Johnson Stein) dapat digunakan untuk meminimasi variansi perubahan harga transaksi asalkan nilai ratio minimum tersebut berada pada kisaran 0 – 1 dan variansi perubahan harga transaksi tidak sama dengan nol. Sedangkan metode hedging secara umum dapat mengompensasi kerugian pada saat terjadi kenaikan harga futures. Semakin tinggi nilai ratio, semakin baik hedging mengompensasi kerugian di pasar transaksi. Dari analisis hedging untuk meminimasi / mengurangi variansi perubahan harga transaksi dan kompensasi kerugian ini, lalu dilakukan perancangan metode penggunaan hedging untuk menjawab kapan sebaiknya dilakukan hedging dan seberapa banyak futures contract mesti dibeli untuk keperluan hedging (perhatikan gambar 4.5). Perancangan dilakukan dengan memberikan prioritas utama pada metode hedging yang memberikan kompensasi kerugian terbesar dengan ketentuan nilai variansi perubahan harga transaksi setelah hedging di bawah nilai atau sama dengan variansi perubahan harga transaksi yang terjadi. Metode hasil rancangan ini lalu diujikan pada contoh kasus delivery Januari – delivery Agustus 2004 yang terbukti dapat memberikan penghematan biaya pembelian pada kisaran 22% – 28% dibandingkan nilai transaksi tanpa hedging . Metode rancangan ini juga terbukti memberikan penghematan lebih tinggi dibanding metode pembelian lainnya : hedging ratio minimum saja, hedging dengan ratio satu saja, metode tanpa hedging. Nilai variansi perubahan harga hasil metode rancangan pun terbukti lebih kecil atau sama dengan variansi perubahan harga transaksi yang terjadi. Bila nilai penghematan tidak berbeda, maka penggunaan rancangan metode yang direkomendasikan dan skenario nilai batas 50%, 75% dan 100 % di atas harga kontrak dapat efektif menghemat 24% – 66 % pengeluaran PLN untuk penyesuaian harga kontrak saat ini