Pengolahan data pasut bertujuan untuk menentukan nilai amplitudo dan fasa dari setiap komponen pasut. Nilai amplitudo dan fasa tersebut dapat digunakan untuk keperluan pemodelan atau prediksi pasut yang dapat dimanfaatkan salah satunya untuk kebutuhan navigasi. Nilai amplitudo dan fasa dari suatu pengamatan data panjang akan dipengaruhi oleh faktor nodal akibat perubahan orbit siklus 18.6 tahun. Faktor tersebut dapat dikoreksi dengan koreksi nodal. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh koreksi nodal terhadap pengolahan data pasut dan mengetahui komponen pasut apa saja yang paling signifikan dipengaruhi oleh koreksi nodal. Metode yang digunakan dalam pengolahan data pasut ini adalah analisis harmonik metode kuadrat terkecil. Metode ini kemudian diterapkan pada tiga pengolahan data pasut tanpa koreksi nodal, dengan koreksi nodal di setiap epok, dan dengan koreksi nodal di waktu tengah pengamatan. Data yang digunakan adalah data dari 3 stasiun pasut Badan Informasi Geospasial (BIG) tahun 2016 dan tahun 2014-2016. Komponen pasut yang digunakan dalam pengolahan data ini berjumlah 52. Berdasarkan hasil yang diperoleh, pengaruh koreksi nodal terhadap pengolahan data pasut adalah cukup besar. Hal ini ditunjukan oleh nilai RMSE yang dihasilkan dari pengolahan data pasut tanpa koreksi nodal tahun 2016 sebesar 16% untuk Kota Agung, 17% untuk Luwuk, dan 18% untuk Ketapang. Sedangkan, pada pengolahan data pasut tanpa koreksi nodal data pengamatan pasut 2014-2017 adalah 15% untuk Kota Agung, 12% untuk Luwuk, dan 17% untuk Ketapang. Secara teoritis, komponen harmonik yang paling signifikan dipengaruhi oleh koreksi nodal adalah O1, S1, M2, K1, dan K2. Sedangkan pada penelitian ini, komponen harmonik pasut yang paling signifikan dipengaruhi oleh koreksi nodal adalah O1, K1, M2a, M2, M2b, S1, S2, S6, S7, dan S8.
Perpustakaan Digital ITB