Jumlah sampah anorganik semakin meningkat seiring dengan peningkatan populasi manusia dengan dugaan bahwa pada tahun 2020 sekitar 4.3 milyar penduduk urban akan membuang MSW mencapai 1.42 kg/kapita/MSW, setara dengan 2.2 milyar ton per tahun, yang didominasi oleh sampah plastik dan styrofoam. Styrofoam dan produknya sendiri diketahui sudah mengisi 30 persen TPA, dimana TPA sudah mulai penuh sedangkan Styrofoam membutuhkan waktu 500 tahun untuk berdekomposisi. Pada tahun 2016, total sampah plastik yang dihasilkan dunia adalah 335 juta ton. Diperkirakan 91% dari sampah tersebut belum diolah kembali. Salah satu pendekatan yang mulai aktif dikembangkan adalah pemanfaatan agen hayati untuk mengurangi jumlah tumpukan sampah melalui konsep konversi menjadi biomasa tubuh. Ulat Hongkong (larva Tenebrio molitor) merupakan salah satu jenis serangga yang memiliki rentang jenis makanan yang sangat bervariasi karena keberadaan simbion bakteri di dalam sistem pencernaan mereka sehingga mereka berpotensi untuk diuji sebagai salah satu agen biokonversi bagi sampah plastik dan styrofoam. Pada penelitian ini ulat hongkong diberikan pakan berupa kombinasi plastik dan stryofoam dengan perbandingan plastik 100%, 50% plastik : 50% styrofoam, dan styrofoam 100%, dengan massa pemberian pakan sebesar 2 g selama satu bulan. Perlakuan ini dikombinasikan dengan perlakuan dicampurkan dengan tanah, hanya ulat, dan kombinasi campuran tanah dan ulat. Variabel yang diamati adalah tingkat laju konsumsi pakan (gram) dan jenis degradator yang paling berpengaruh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada setiap perlakuan degradator, didapatkan urutan degradasi bahan uji (styrofoam, plastik, styrofoam-plastik) dimulai dari tertinggi adalah ulat-tanah, ulat, tanah. Di sisi lain, terdapat kenaikan konversi pakan oleh tiap degradator untuk masing-masing perlakuan pakan (styrofoam, plastik, dan kombinasi styrofoam-plastik) tetapi terdapat penurunan laju pertumbuhan massa ulat. Juga didapatkan hasil secara statistik untuk laju dekomposisi styrofoam, plastik, dan kombinasi styrofoam-plastik. Didapat hasil P-value=0.069>α (0.05) untuk pakan styrofoam, P-value=0.117>α (0.05) untuk pakan plastik, dan P-value=0.071>α (0.05) untuk pakan plastik-styrofoam. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata secara statistik pada penggunaan ulat, tanah, dan kombinasi ulat-tanah untuk masing-masing pakan.
Perpustakaan Digital ITB