Article Details

STUDI GEOARKEOLOGI BAGIAN UTARA JAWA TENGAH UNTUK REKONSTRUKSI LINGKUNGAN HIDUP, OKUPASI, DAN JELAJAH MANUSIA PURBA SELAMA ZAMAN KUARTER

Oleh   Agus Tri Hascaryo [32013002]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Jahdi Zaim;Dr. Ir. Yan Rizal R., Dipl.-Geol.;Prof. Dr. Sumijati Atmosudiro;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : FITB - Teknik Geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : Kata kunci: Geoarkeologi, Formasi Lusi, Teras Lusi 3, Homo sapiens, Pacitanian, Kuarter.
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-03-21 13:14:22

Geologi Kuarter bagian Utara Jawa Tengah belum dipelajari secara rinci, terutama dalam kaitannya dengan perubahan paleolingkungan termasuk proses sedimentasi. Adanya fosil vertebrata serta fosil manusia di Jawa Tengah Bagian Utara (Patiayam) dan Selatan (Jalur Kendeng termasuk Trinil dan Sangiran), menunjukkan bahwa wilayah bagian utara Jawa Tengah juga sebagai wilayah yang memiliki lingkungan purba yang baik dan cocok untuk perkembangan kehidupan. Fosil vertebrata dan bukti sisa kehidupan manusia masa lalu yang terdapat dalam lapisan sedimen di bagian utara Jawa Tengah bisa dijadikan dasar penyusunan biostratigrafi vertebrata di wilayah tersebut. Tujuan penelitian adalah rekonstruksi paleolingkungan, okupasi, dan jelajah manusia purba selama Zaman Kuarter yang terdapat pada stratigrafi daerah penelitian di bagian utara Jawa Tengah. Tahapan penelitian disertasi terdiri dari studi pustaka, survey permukaan, ekskavasi, dan analisis laboratorium dengan menggunakan metode analisis penginderaan jauh, petrografi, granulometri, arkeometri, radiometri, Scanning Electronic Microscope (SEM), tomografi CT Scan, dan analisis fitolit. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari: Formasi Mundu merupakan satuan batuan tertua yang terdiri atas endapan laut dangkal berumur Plio-Plestosen (N19 – N22 zonasi Blow), ditutupi secara tidak selaras oleh endapan Kuarter. Data penelitian endapan Kuarter dibagi atas Formasi Lusi dan Endapan Teras Lusi berumur Plestosen Tengah akhir sampai Holosen. Teras Lusi yang dijumpai berupa Teras Morfologi yaitu Teras Lusi 1 dan teras-teras yang berisi endapan Sungai Lusi yaitu Teras Lusi 2, Teras Lusi 3, Teras Lusi 4, dan Teras Lusi 5. Lembah Sungai Lusi merupakan wilayah yang baik untuk perkembangan lingkungan hidup suatu organisme, termasuk vertebrata dan manusia serta budayanya. Fauna vertebrata yang ditemukan terdiri atas: Famili Bovidae, Elephantidae, Stegodontidae, Rhinocerotidae, Cervidae, Crocodilidae, dan Testudinidae. Fragmen fosil hominid ditemukan pada satuan batuan batupasir sangat kasar konglomeratan “Formasi Lusi”. Berdasarkan analisis tomografi, fosil yang ditemukan tahun 2016 ini ditafsirkan sebagai bagian cranium bayi Homo sapiens. Pentarikhan umur pada mineral feldspar yang diambil dari sedimen di sekitar fosil dengan menggunakan metode IR-OSL menghasilkan umur 131.5 + 13.2 ka. Di daerah penelitian ditemukan alat (artefak) yang terbuat dari kerang, tulang, dan batu. Fosil vertebrata dan fosil manusia Homo sapiens beserta sisa budayanya dalam Formasi Lusi berumur Plestosen Tengah Atas dan Teras Lusi 3 berumur Plestosen Akhir di Lembah Sungai Lusi. Bukti sisa budaya di Formasi Lusi berupa serpih – bilah besar batu andesit, alat tulang spatula, dan alat penumbuk berbahan rangga, bercirikan teknologi Budaya Pacitanian. Selain itu di formasi ini ditemukan alat cangkang kerang berupa serut cangkang kerang yang memiiki ciri teknologi pemangkasan langsung. Sisa budaya hominid selain ditemukan di Formasi Lusi juga ditemukan di Teras 3. Peralatan hominid pada Teras 3 yaitu: alat batu kapak penetak, spatula tulang, dan serut tulang. Alat batu bercirikan teknologi Budaya Pacitanian, sedangkan spatula tulang dan serut tulang memiliki ciri teknologi Budaya Ngandong. Penentuan paleo-iklim berdasarkan perhitungan fitolit yang menggunakan rumus Indeks Elongasi, yaitu perbadingan antara jumlah seluruh fitolit sel elongasi berbanding jumlah seluruh sel fitolit, lebih baik dari pada rumus yang selama ini telah ada. Paleo-iklim berupa tingkat kelembaban sedang sampai agak kering dan penelitian geologi, menunjukkan bahwa Lembah Sungai Lusi merupakan lingkungan yang sesuai sebagai tempat okupasi hominid. Selain itu Lembah sungai Lusi menjadi tempat singgah juga bagi hominid dan fauna vertebrata, saat melakukan jelajah di Jawa Tengah dan sekitarnya. Hominid dan fauna vertebrata melakukan penjelajahan yang memalui alternatif tiga jalur besar penjelajahan di Jawa Tengah, yaitu: jalur tengah Jawa Tengah menjelajah ke Utara, jalur utara Jawa Tengah mengarah ke Selatan, dan jalur jelajah di bagian Utara dan Selatan.