digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Faizul Ihsan.pdf
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

Potensi panas bumi Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Salah satunya adalah daerah panas bumi Bonjol yang berada di Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Untuk identifikasi potensi panas bumi tersebut, digunakan data pengukuran gravitasi hasil survei terpadu yang dilakukan oleh Tim Survei Terpadu Pusat Sumber Daya Geologi (PSDG) tahun 2007 dengan data pendukung yaitu data geologi, geokimia, dan data metode geofisika lainnya. Pada penelitian ini, data pengukuran gravitasi diolah kembali menjadi perhitungan anomali Bouguer lengkap menggunakan densitas rata-rata 2,65 gr/cm3 yang kemudian dibuat menjadi peta anomali Bouguer lengkap. Langkah selanjutnya, anomali Bouguer tersebut dipisahkan menjadi anomali regional dan residual menggunakan metode filter Gaussian dan kombinasi metode filter Gaussian dengan BEMD (Bi-Dimensional Empirical Mode Decomposition). Nilai anomali regional dan residual yang diperoleh dari kedua metode memiliki rentang dan kecenderungan pola yang hampir serupa dan sama-sama memiliki lineasi berarah barat laut – tenggara. Dari peta anomali residual yang diperoleh, dipilih peta anomali residual hasil kombinasi metode filter Gaussian dengan BEMD karena lebih berkesesuaian dengan kondisi geologi permukaan yang teridentifikasi dan memiliki pola lineasi berarah barat laut – tenggara serta timur laut – barat daya, dan juga kesesuaian manifestasi panas bumi di permukaan yang teridentifikasi dengan lebih baik. Selanjutnya dilakukan forward modelling 2,5D terhadap data lintasan anomali residual yang telah dipilih, dibantu hasil analisis derivatif menggunakan metode Second Vertical Derivative (SVD) yang didukung data geologi, geokimia, dan metode geofisika lainnya untuk menghasilkan pemodelan bawah permukaan. Dari pemodelan tersebut, dapat diidentifikasi sistem panas bumi daerah Bonjol yang terdiri dari reservoir berupa batuan sedimen formasi Sihapas yang dimulai pada kedalaman 900 meter, lalu batuan penudung merupakan batuan lava tua dan malintang serta sumber panas diperkirakan berupa intrusi dari batuan di bawah mata air Sungai Takis dan Sungai Limau. Air pada reservoir berasal dari air meteorik yang keluar melalui sesar sehingga menghasilkan zona upflow dan outflow.