Article Details

KAJIAN KEMAMPUAN SISTEM INFORMASI BERADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN STRATEGI BISNIS ORGANISASI STUDI KASUS: PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS KRISTEN PETRA

Oleh   Adi Wibowo (NIM 235 05 020)
Kontributor / Dosen Pembimbing : Pembimbing : Husni S. Sastramihardja, Dr, Ir, M.T.
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : STEI - Informatika
Fakultas : Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI)
Subjek :
Kata Kunci : Business environment, information system, qualitative methodology
Sumber :
Staf Input/Edit :  
File : 8 file
Tanggal Input : 2017-09-27 15:37:08

Abstrak: Lingkungan bisnis di sekitar organisasi selalu berubah. Hal ini adalah sifat alami dari lingkungan bisnis. Organisasi harus selalu menyesuaikan strateginya untuk beradaptasi dengan lingkungan bisnis tersebut untuk mempertahankan keunggulan kompetitif, atau bahkan untuk mempertahankan hidupnya. Sistem informasi saat ini digunakan sebagai driver atau enabler bagi strategi bisnis organisasi. Hal ini menyebabkan bila strategi bisnis diubah, maka sistem informasi juga perlu diubah untuk mendukung strategi bisnis tersebut. Fenomena ini menunjukkan perlunya sistem informasi memiliki sifat adaptif. Untuk membangun sistem informasi yang adaptif tidak cukup hanya dengan menggunakan teknologi modular atau fleksibel, atau perancangan portofolio aplikasi yang tepat. Terdapat beberapa aspek dalam organisasi yang dapat mempengaruhi kemampuan sistem informasi beradaptasi terhadap tuntutan dari strategi bisnis. Penelitian ini memiliki dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk menemukan faktor-faktor yang perlu diperhatikan yang mempengaruhi kemampuan sistem informasi beradaptasi terhadap tuntutan perubahan dari strategi bisnis. Tujuan kedua adalah membuat usulan daur hidup sistem informasi untuk menjawab faktor-faktor yang ditemukan pada tujuan pertama. Tujuan pertama akan dijawab melalui proses analisis yang menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan filosofi post-positivism, dan interpretif. Tujuan kedua akan dijawab melalui proses sintesis dengan menggunakan metodologi design science research. Studi ini menemukan bahwa faktor kunci yang menyebabkan ketidakmampuan sistem informasi beradaptasi adalah kesalahan dalam pembentukan strategi bisnis. Faktor-faktor lainnya adalah kurangnya jumlah staf yang terlibat dalam proyek-proyek pengembangan, dokumen pengembangan yang tidak lengkap, manajemen proyek pengembangan yang tidak memadai, interupsi eksternal dan internal pada proyek yang sedang berjalan, dan masalah dalam penanganan bug. Untuk menjawab masalah tersebut diusulkan sebuah solusi yang memperhatikan daur hidup sistem informasi. Dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen proses yang diusulkan oleh Roger T. Burlton, dan data-data empiris yang dikumpulkan selama fase analisis, lima prinsip diusulkan untuk mendukung kemampuan adaptasi sistem informasi. Lima prinsip tersebut adalah: 1. Baik proses pembentukan strategi bisnis, maupun proses perencanaan, dan proses pengembangan sistem informasi harus dibagi ke dalam beberapa level tertentu. 2. Setiap level akan dilakukan pada iterasi terpisah, dan iterasi sebelumnya adalah proses analisis atau pengembangan dari level yang lebih tinggi (proses dekomposisi). 3. Setiap pengetahuan dari iterasi sebelumnya digunakan untuk mengerjakan tujuan iterasi saat itu (incremental finding and execution). 4. Setiap iterasi dilakukan dalam waktu yang singkat (time-boxed) dan dilakukan evaluasi di akhir setiap iterasi (periodic evaluation). 5. Setiap pengetahuan yang didapatkan dalam iterasi harus disimpan agar dapat dimanfaatkan pada iterasi berikutnya (knowledge management). Sebagai bagian dari hasil studi, daur hidup sistem informasi (DHSI) yang terdiri dari sebelas fase, dan satu aktifitas khusus, dibentuk dengan menggunakan lima prinsip di atas. DHSI dimulai dengan mengumpulkan informasi mengenai lingkungan bisnis dan sistem informasi internal. Setelah pemahaman mengenai lingkungan bisnis internal didapatkan pada fase pertama dan kedua, fase ketiga berusaha memahami lingkungan bisnis eksternal, dan posisi organisasi terhadap lingkungan bisnis tersebut. Fase keempat dan kelima dilaksanakan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai peluang-peluang bisnis melalui analisis pada sasaran-sasaran bisnis, dan aliran informasi dan aset organisasi. Fase keempat dan kelima menghasilkan usulan informasi dan aplikasi-aplikasi yang dapat diimplementasikan untuk mendapatkan peluang-peluang tersebut. Fase keenam dan ketujuh bertujuan untuk membentuk strategi bisnis dan strategi sistem informasi melalui proses identifikasi business scenario, dan pembentukan business architecture. Pada akhir fase ketujuh beberapa architecture building block (data, dan aplikasi) akan teridentifikasi dan terklasifikasi. Fase kedelapan memulai proses pengembangan setiap architecture building block dengan menentukan peta migrasi. Setiap building block akan dikembangkan pada fase kesembilan sesuai urutan yang telah ditetapkan dalam peta migrasi. Setiap saat fase kesembilan selesai dilakukan, peta migrasi akan direvisi untuk mengakomodasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi selama proses eksekusi fase kesembilan. Setelah beberapa building block diselesaikan yang memungkinkan adanya implementasi, maka fase kesepuluh dilaksanakan. Fase kesebelas adalah proses perawatan sistem informasi yang telah diimplementasi pada fase kesepuluh. Satu aktifitas khusus yang dilaksanakan di setiap fase adalah knowledge management. Knowledge management memiliki tujuan untuk mengumpulkan explicit knowledge, mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge, dan menyimpannya ke dalam knowledge base. Seluruh tugas tersebut dilakukan oleh knowledge expert. Dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan beradaptasi, lima prinsip yang mendukung kemampuan adaptasi sistem, dan daur hidup sistem informasi yang telah diusulkan, diharapkan sistem informasi dapat memiliki kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan strategi bisnis.