Article Details

MENINGKATKAN PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM PENGEMBANGAN MIGAS DENGAN PROSES NILAI MODAL SECARA KENTEKSTUAL

Oleh   Hanto Yananto [39018005]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr. Ir. Utomo Sarjono Putro, M.Eng.;Yos Sunitiyoso, S.T., M.Eng., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : SBM - Sains Manajemen
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen
Subjek :
Kata Kunci : Proses Nilai Modal; Gerbang Bertahap; Penelitian Tindakan; Metodologi Sistem Lunak; Dinamika Sistem.
Sumber :
Staf Input/Edit : Wiwik Istiyarini  
File : 0 file
Tanggal Input : 27 Jul 2022

Tidak ada file


Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah organisasi yang kompleks yang umumnya statis, hierarkis, dan birokratis. Fase-fase investasi yang dinamis dan panjang seringkali mengakibatkan tertundanya proyek-proyek pengembangan migas, yang menyebabkan hilangnya peluang produksi awal dan peningkatan investasi modal. Proses pengambilan keputusan yang ada mungkin tidak cukup menghargai inisiatif pengembangan ladang minyak, yang mengakibatkan ketidakpastian dan mengarah pada penolakan keputusan investasi. Oleh karena itu, penilaian dilakukan untuk mengetahui apakah proses pengambilan keputusan dibedakan berdasarkan kriteria dan kompleksitas proyek pengembangan yang diusulkan dibandingkan dengan proyek yang ada. Model gerbang bertahap berbasis konteks dan skala untuk industri minyak dan gas kemudian dikembangkan berdasarkan teori gerbang bertahap yang sebelumnya digunakan hanya untuk pengembangan produk baru industri manufaktur. Penelitian ini mendemonstrasikan penerapan kombinasi metodologi sistem lunak berbasis penelitian tindakan dan sistem dinamika untuk meningkatkan proses pengambilan keputusan di BUMN khususnya pengembangan lapangan minyak. Pengumpulan data untuk proyek ini dilakukan melalui observasi pada berbagai pertemuan peninjauan penentu keputusan dan pertemuan penilaian teknis, serta melalui wawancara semi terstruktur dengan para pemangku kepentingan yang terlibat dalam rantai pengambilan keputusan untuk proyek pengembangan bisnis. Dalam melakukan penelitian tindakan, dilakukan dua putaran siklus penelitian. Pada siklus pertama peneltian, pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara dan lembar pertanyaan ke sejumlah pemangku kepentingan yang terlibat di dalam sistem pengambilan keputusan. Dari hasil analisa data disimpulkan bahwa transformasi digital harus diterapkan secara terintegrasi untuk mengurangi pekerjaan berulang. Berdasarkan permodelan pada sistem lunak didapati pengurangan waktu peninjauan yang sangat besar yang berdampak baik terhadap pelaksanaan proyek yang diusulkan. Apliksi digital dengan sistem arsitektur sesuai hasil permodelan dalam sistem lunak pun dikembangkan dan di terapkan ke dalam proses peninjauan usulan proyek pengembangan bisnis. Namun ketika diterapkan langsung ke dalam sistem sesungguhnya, masih ditemukan hambatan-hambatan dalam pengambilan keputusan dari para pemangku kepentingan. Implementasi pada siklus pertama dilakukan dengan melakukan perubahan alur proses pada aplikasi pengambilan keputusan yang sudah ada. Proses pembaruan aplikasi berhasil dilaksanakan dan di implementasikan pada UEC dengan harapan realisasi dapat berjalan sesuai dengan hasil simulasi saat dilakukan pemodelan. Yang menjadi hambatan adalah komitmen dari setiap pemangku kepentingan untuk menjalankan bisnis proses seluruhnya secara digital. Perbedaan komitmen dari setiap pemangku kepentingan inilah yang menjadikan pada kenyataannya hasil yang didapat tidak seperti dalam simulasi. Temuan pada siklus pertama tadi menjadi masukan pada siklus kedua, sehingga dalam siklus kedua pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap pemangku kepentingan yang lebih luas dan diutamakan berperan sebagai pengambil keputusan di fungsi atau direktorat-nya masingmasing. Implementasi pada siklus kedua dilakukan dengan melakukan perubahan pada proses bisnis perusahaan terebih dahulu. Dengan memodifikasi model gerbang bertahap dari pengembangan produk menjadi gerbang bertahap untuk industri migas dengan basis kontekstual menghasilkan proyek-proyek yang sederhana mendapat hak khusus untuk pengajuan proyek dengan tahap persetujuan yang jauh lebih sederhana. Setelah proses bisnis berhasil dimodifikasi, barulah perubahan aplikasi pengambilan keputusan dilakukan menyesuaikan bisnis proses yang baru. Hasilnya menunjukkan bahwa jumlah siklus tinjauan dalam proses pengambilan keputusan berkurang secara signifikan berdasarkan kompleksitas proyek, memastikan alokasi sumber daya penting dan langka untuk proyek, dan mengurangi total waktu penyelesaian. Sebaliknya, beberapa hambatan masih ada di tingkat menengah dan lebih tinggi dari proses pengambilan keputusan. Kesimpulan penting dari penelitian ini adalah bahwa pengambilan keputusan manajemen akan mendapatkan keuntungan dengan mendelegasikan beberapa kegiatan tinjauan teknis dari subholding ke daerah dan mendelegasikan otorisasi keuangan satu tingkat dari ambang batas yang ada. Keywords: Proses Nilai Modal; Gerbang Bertahap; Penelitian Tindakan; Metodologi Sistem Lunak; Dinamika Sistem.