Perkembangan desain kendali utama pesawat terbang telah mengalami evolusi yang
signifikan dalam setiap periode waktu. Pada periode terkini, inovasi terfokus pada
transformasi dari sistem kendali full mechanical pada pesawat terbang
berpenumpang, beralih ke sistem kendali full electrical. Saat ini pesawat yang
sudah menggunakan sistem full electrical adalah pada Unmanned Aerial Vehicle
(UAV). Kemudian muncul konsep More Electric Aircraft (MEA) yang mengadopsi
kendali hybrid. Tujuan masa depannya adalah pengembangan Zero Emission
Aircraft (ZEA). Hingga sekarang MEA dan ZEA belum mendapatkan sertifikasi
tipe dari regulator kelaikan udara, berdasarkan kondisi tersebut, penelitian terkait
pengembangan kendali aileron berbasis elektromekanikal ini dilakukan karena
memiliki relevansi dan potensi yang menjanjikan dalam industri penerbangan
Indonesia.
Proses penelitian ini dimulai dengan pemilihan pesawat yang memenuhi regulasi
CASR 23. Arsitektur desain sistem kendali aileren pesawat yang ada tersebut
kemudian diganti dengan sistem kendali baru berbasis elektromekanikal. Proses ini
melibatkan analisis kegagalan sistem menggunakan Fault Tree Analysis (FTA) dan
analisis dinamik sistem melalui simulasi numerik kemudian dihitung kebutuhan
daya dan berat sistem.
Hasil analisis kegagalan sistem menunjukkan bahwa arsitektur yang diusulkan
memiliki tingkat kegagalan sekitar10 pada kondisi loss of aileron control dan
10 pada kondisi aileron hard over dan hasil tersebut sudah memenuhi
persyaratan regulasi. Analisis daya menunjukkan bahwa daya yang diperlukan
hanya 1667,8 Watt, sehingga daya yang tersedia pada pesawat masih mencukupi.
Namun, analisis bobot menunjukkan bahwa sistem elektromekanikal baru lebih
berat sekitar 35,7% dibandingkan sistem full mechanical yang digunakan
sebelumnya.