Article Details

ISOLASI DAN KARAKTERISASI SUATU RACUN YANG MENYERUPAI AFLATOKSIN B1

Oleh   Nursal Asbiran
Kontributor / Dosen Pembimbing : Promotor: P. Soedigdo, Prof., Dr. Co-promotor: Soekeni Soedigdo, Prof., Dr. Scan: Arnaz Driyastika M. (2008-01-03)
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit :
Fakultas :
Subjek :
Kata Kunci : aflatoksin, Aspergillus flavus, isolation
Sumber :
Staf Input/Edit :  
File : 9 file
Tanggal Input : 2017-09-27 15:45:34

Generic placeholder image
1981 DIS PP NURSAL ASBIRAN 1-BAB1.pdf
File tidak tersedia

Generic placeholder image
1981 DIS PP NURSAL ASBIRAN 1-BAB2.pdf
File tidak tersedia

Generic placeholder image
1981 DIS PP NURSAL ASBIRAN 1-BAB3.pdf
File tidak tersedia

Generic placeholder image
1981 DIS PP NURSAL ASBIRAN 1-BAB4a.pdf
File tidak tersedia

Generic placeholder image
1981 DIS PP NURSAL ASBIRAN 1-BAB4b.pdf
File tidak tersedia

Generic placeholder image
1981 DIS PP NURSAL ASBIRAN 1-BAB4c.pdf
File tidak tersedia

Generic placeholder image
1981 DIS PP NURSAL ASBIRAN 1-BAB5.pdf
File tidak tersedia

Generic placeholder image
1981 DIS PP NURSAL ASBIRAN 1-COVER.pdf
File tidak tersedia

Generic placeholder image
1981 DIS PP NURSAL ASBIRAN 1-PUSTAKA.pdf
File tidak tersedia


ABSTRAK: Maksud dan tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti apakah biak Aspergillus flavus Indonesia memang menghasilkan Aflatoksin B1 (AFB1) seperti Aspergillus lavus yang diungkapkan dalam pustaka luar negeri. Hal ini sehubungan dengan ditemukannya AFB1 dalam jumlah yang jauh melampaui batas aman pada banyak bahan makanan kita di Indonesia. Pada percobaan yang dilakukan di sini berhasillah diisolasi suatu racun yang sifatnya mirip dengan AFB1 dari bungkil kacang tanah setelah ditanami dengan A. flavus. Pemisahannya dikerjakan lewat ekstraksi dengan campuran kloroform, air dan tanah diatomae yang dilanjutkan dengan kromatografi kolom dengan memakai silika gel. Zat tersebut memperlihatkan pada kromatografi lapisan tipis suatu noda yang berfluoresensi biru di bawah lampu ultraviolet. Rf-nya ternyata sama dengan standar AFB1. Penelitian spektrum seraPan di daerah ultraviolet menunjukkan bahwa isolat tersebut mempunyai 2 puncak maksima ialah pada 275 dan 244 nm sedangkan standar AFB1 memperlihatkan 3 puncak maksima pada 360, 265 dan 241 nm. Diperkirakan bahwa perbedaan ini disebabkan karena perbedaan dalam struktur molekulnya. Sehubungan dengan ini maka senyawa isolat seterusnya disebut Aflatoksin Bx(AFBx). Seperti halnya dengan AFB1, AFBx juga menghambat pertumbuhan Bacillus megaterium walaupun kurang kuat. Kedua aflatoksin tersebut menghambat respirasi homogenat hati tikus. Penelitian lebih lanjut mengungkapkan bahwa baik AFB1 maupun AFBx menghambat dengan nyata aktifitas ATP-ase yang dapat diisolasi dari hati tikus. Studi kinetik yang dilakukan kemudian menunjukkan bahwa Ki(AFB1)=1,2x10-5M sedangkan Ki(AFBx)=6,4x10-5M. Ini menandakan bahwa AFBx adalah kurang kuat dalam menghambat aktifitas ATP-ase dari pada AFB1. L-sistein suatu senyawa yang mempunyai gugus sulfhidril dapat mengurangi atau meniadakan penghambatan tersebut. Ini menunjukkan bahwa gugus SH enzim berlomba dengan gugus SH sistein untuk diikat oleh AFB1 atau AFBx. Dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa hambatan tersebut bersifat bersaing (kompetitif). Seperti diketahui AFBx dan AFB1 adalah hampir mirip sedangkan analisa racun dalam bahan makanan pada umumnya didasarkan atas anggapan bahwa senyawa tersebut adalah AFB1. Oleh karena itu dapatlah dimengerti bila ada kemungkinan salah penafsiran dalam derajat racun makanan tersebut karena yang ditentukan bukanlah AFB1 yang mempunyai potensi tinggi tetapi adalah AFBX yang mempunyai potensi yang jauh lebih kecil dari pada AFB1.