Article Details

STUDI EKSTRAK KULIT NEPHELIUM LAPPACEUM (RAMBUTAN) SEBAGAI INHIBITOR ORGANIK UNTUK MENGENDALIKAN KOROSI PADA BAJA ASTM A36 DI LARUTAN HCL 1 M

Oleh   Agung Mahendra [12518038]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr.Eng. Bonita Dilasari, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Teknik Metalurgi
Fakultas : Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan
Subjek :
Kata Kunci : pengendalian korosi, inhibitor organik, kulit rambutan, baja karbon, asam klorida.
Sumber :
Staf Input/Edit : Resti Andriani  
File : 7 file
Tanggal Input : 22 Sep 2022

Generic placeholder image
BAB 1 Agung Mahendra

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 2 Agung Mahendra

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 3 Agung Mahendra

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 4 Agung Mahendra

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
BAB 5 Agung Mahendra

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan

Generic placeholder image
PUSTAKA Agung Mahendra

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan


Korosi merupakan peristiwa destruktif yang dapat terjadi pada setiap logam dan menimbulkan banyak kerugian. Untuk itu, perlunya pengendalian korosi untuk meminimalkan kerugian tersebut. Salah satu metode pengendalian korosi adalah penggunaan inhibitor korosi. Inhibitor korosi yang sedang banyak dikembangkan adalah inhibitor dari bahan organik, seperti kulit buah. Kulit buah rambutan adalah salah satu limbah yang banyak ditemukan di Indonesia sehingga cocok untuk dimanfaatkan lebih lanjut menjadi inhibitor korosi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efisiensi inhibisi ekstrak kulit rambutan pada baja ASTM A36 di lingkungan HCl 1 M. Penelitian ini menggunakan metode uji perendaman, uji elektrokimia, karakterisasi permukaan, dan karakterisasi senyawa organik. Uji perendaman dilakukan selama 24 jam di suhu ruang dan 6 jam di variasi temperatur dengan variasi konsentrasi inhibitor 0, 2, 4, 6, dan 8 g/L, serta variasi temperatur 25oC, 30oC, 40oC, dan 50oC. Uji elektrokimia meliputi uji open circuit potential (OCP) untuk melihat kestabilan sistem dan kecenderungan korosi, electrochemical impedance spectroscopy (EIS) untuk menentukan efisiensi inhibisi dan rangkaian listrik ekuivalen, dan potentiodynamic polarization (PDP) untuk menentukan laju korosi, efisiensi inhibisi, dan tipe inhibitor. Terakhir, terdapat karakterisasi berupa karakterisasi permukaan menggunakan scanning electron microscope (SEM) dan karakterisasi senyawa organik menggunakan fourier-transform infrared spectroscopy (FTIR) dan ultraviolet-visible spectroscopy (UV-Vis). Dari uji perendaman dapat diketahui pengaruh penambahan konsentrasi inhibitor adalah menaikkan efisiensi inhibisinya hingga konsentrasi optimumnya. Efisiensi optimum didapat pada konsentrasi 6 gpl dengan nilai efisiensi 92,6%. Model isoterm adsorpsi yang cocok untuk percobaan ini adalah model Langmuir dan model Freundlich. Perhitungan nilai perubahan energi bebas adsorpsi menunjukkan inhibitor ini mengalami mekanisme adsorpsi fisik (fisisorpsi). Uji OCP membuktikan kehadiran inhibitor dapat menurunkan kecenderungan logam untuk terkorosi. Dari uji EIS didapat efisiensi optimum ada pada konsentrasi inhibitor 6 gpl dengan nilai efisiensi 86,9% dan rangkaian listrik ekuivalennya adalah [Rs- (Rp/CPE)]. Dari uji PDP didapat efisiensi optimum ada pada konsentrasi 6 gpl dengan nilai efisiensi 91,8% dan dapat diidentifikasi inhibitor ekstrak kulit rambutan adalah inhibitor tipe campuran (mixed-type inhibitor). Uji SEM membuktikan inhibitor dapat mengurangi dampak korosi pada permukaan baja. Uji FTIR dan UV-Vis membuktikan senyawa organik pada inhibitor berperan dalam mengurangi laju korosi logam.