Article Details

STUDI IDENTIFIKASI PERFORMA SERAT KAPUK (CEIBA PENTANDRA (L.) GAERTN) SEBAGAI ADSORBEN UNTUK PENYISIHAN TUMPAHAN MINYAK DI LINGKUNGAN SALIN

Oleh   Muhammad Fahri Gunawan Husaini [15317088]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Edwan Kardena, Ph.D.;Dr. Qomarudin Helmy, S.Si., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Teknik Lingkungan
Fakultas : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan
Subjek : Sanitary & municipal engineering
Kata Kunci : adsorpsi, biodegradable, bioremediasi, daur ulang, penyisihan oli, serat kapuk, tumpahan oli
Sumber :
Staf Input/Edit : Lili Sawaludin Mulyadi  
File : 1 file
Tanggal Input : 21 Sep 2022

Oli merupakan energi yang dibutuhkan dalam kehidupan. Namun, pada pengolahan hingga pendistribusiaanya, industri ini rentan terhadap pencemaran lingkungan terutama di laut. Banyak metode penanganan tumpahan oli, sorben salah satunya. Penggunaan sorben masih terbatas pada material sintetis. Penelitian ini dilakukan untuk mencari dan menguji kemampuan bahan penyerap alami yang terurai oleh lingkungan terhadap oli, yakni serat kapuk (Ceiba pentandra (L.) Gaertn). Penelitian ini difokuskan pada adsorpsi oli dengan metode batch sederhana dengan variasi modifikasi, waktu kontak, konsentrasi awal, dan temperatur. Hasil menunjukkan bahwa kapasitas adsorpsi air laut artifisial sebesar 0,109-1,95 g/g, ini sebagai pembuktian bahwa kapuk memiliki sifat menolak air. Kapasitas penyerapan terhadap oli oleh kapuk mentah modifikasi fisik berupa serat dan serbuk memiliki kapasitas adsorpsi berurutan sebesar 47,40 g/g dan 28,32 g/g. Modifikasi secara kimia dengan penambahan PDMS-SiO2 terhadap serat dan serbuk memiliki kapasitas adsorpsi berurutan adalah 46,99 g/g dan 22,64 g/g. Serbuk dengan penambahan PDMS-SiO2 dan tanah lempung memeiliki kapasitas sebesar 24,50 g/g. Model proses adsorpsi adalah isoterm temkin dan kinetika pseudo-second-order, proses adsorpsi terjadi secara kimia dan fisika. Studi termodinamika adsorpsi menunjukkan penyerapan kapuk terhadap oli terjadi secara spontan dan endotermik. Studi pemakaian kembali diketahui bahwa hingga siklus ke 6 penggunaan kapuk sebagai adsorben mengalami penurunan kapasitas <50%.