Article Details

MAKNA VISUAL TUNGGAL PANALUAN SEBAGAI REFLEKSI SISTEM KEPERCAYAAN BATAK TOBA DI PULAU SAMOSIR

Oleh   Tasya Merari Elizabet [17016030]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ira Adriati, S.Sn., M.Sn.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Seni Rupa Murni dan Desain
Fakultas : Fakultas Seni Rupa dan Desain
Subjek :
Kata Kunci : Tunggal Panaluan, Batak Toba, visual.
Sumber :
Staf Input/Edit : Noor Pujiati.,S.Sos  
File : 1 file
Tanggal Input : 20 Sep 2022

Generic placeholder image
2022 TA PP TASYA MERARI 1.pdf

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan


Menurut Vergouwen, Pulau Samosir yang mempunyai luas kurang dari 630 km adalah suatu pulau ‘hidup’. Pulau ini dikatakan ‘hidup’’ karena setiap tahun tanahnya tumbuh sebesar satu inci. Suku yang mayoritas tinggal di Pulau Samosir, yaitu suku Batak Toba, Mereka memiliki beragam artefak tradisi yang menarik untuk diteliti. Salah satu artefak tradisi yang diciptakan oleh datu (shaman) suku ini adalah Tunggal Panaluan. Tunggal Panaluan berwujud sebuah tongkat yang pada zaman dulu hanya boleh dimiliki oleh raja, panglimanya dan datu. Peneliti memilih Tunggal Panaluan sebagai objek penelitian karena tongkat ini merupakan objek yang paling penting dalam sejarah ritual adat dan kepercayaan spiritual Batak kuno pada zaman dahulu karena memiliki kekuatan mistis. Penelitian ini akan fokus mengkaji makna visual Tunggal Panaluan sebagai refleksi sistem kepercayaan Batak Toba dengan sampel 3 tongkat yang didapat dari hasil kaji pustaka buku ‘The Batak Sculpture’ karangan Achim Sibeth dan Bruce Carpenter, serta replika tongkat di Huta Sialagan dan replika suvenir dari dokumentasi penulis selama observasi lapangan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dan proses analisis akan dibantu teori kebudayaan Koentjaraningrat, teori pola tiga Jakob Sumardjo, dan teori spiritual. Data dikumpulkan dengan observasi, studi lapangan, kaji pustaka, dan wawancara. Hasil analisis menyatakan bahwa Tunggal Panaluan memiliki makna visual yang mencerminkan sistem kepercayaan Batak Toba di Pulau Samosir. Hal ini terlihat dalam ukiran motif visual yang tegas, sistem kedudukan tiap figur memiliki cerminan sifat Batak yang selalu mengutamakan peraturan dan bahwa kepemilikan yang tidak boleh dimiliki sembarang orang juga mencerminkan kepercayaan suku Batak bahwa tidak semua pantas memiliki pengetahuan yang tinggi. Konsep penggunaan medium sebagai medium yang menghubungkan manusia ini merupakan pandangan Indonesia kuno mengenai kosong dan isi. Kesimpulan penelitian ini adalah bagaimana Tunggal panaluan jika dikaji visualnya dapat menceritakan sistem kepercayaan Batak Toba yang tercermin di dalamnya.